SOE HOK GIE dan Gunung Semeru
SOE HOK GIE dan Gunung Semeru
SOE HOK GIE: Kenangan Kepada Seorang Demonstran
Enam belas Desember 30 tahun lalu, Soe Hok Gie, tokoh mahasiswa dan pemuda, meninggal dunia di puncak Gunung Semeru, bersama Idhan Dhanvantari Lubis. Sosok dan sikapnya sebagai pemikir, penulis, juga aktivis yang berani, coba ditampilkan Rudy Badil, yang mewakili rekan lainnya, Aristides (Tides) Katoppo, Wiwiek A. Wiyana, A. Rachman (Maman), Herman O. Lantang dan almarhum Freddy Lasut.
“Siap-siap kalau mau ikut naik lagi ke Gunung Semeru. Kasih kabar secepatnya, sebab harus ada persiapan di musim penghujan Desember, juga pertengahan Desember itu bulan puasa Ramadhan,” kata Herman O. Lantang, mantan pimpinan pendakian Musibah Semeru 1969, yang masih amat bugar di umurnya yang sudah lewat 57 tahun.
Terkejut dan tersentuh juga saya saat mendengar ajakan Herman itu. Dia merencanakan membentuk tim kecil untuk mendaki puncak Semeru lagi Desember ini, sambil memperingati 30 tahun meninggalnya dua sobat lama kami, Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. “Kita juga akan berdoa, sekalian mengenang Freddy Lasut yang meninggal beberapa bulan lalu,” lanjutnya.
Soe meninggal dunia saat baru berumur 27 tahun kurang sehari. Idhan malah baru 20 tahun. “Tanpa terasa Soe sudah tiga dasawarsa meninggalkan kita sejak Orde Baru … perkembangan yang terjadi di Tanah Air dalam dua tahun terakhir ini, khususnya gerakan mahasiswa yang telah menggulingkan pemerintahan Orde Baru, mengingatkan kita kembali pada situasi tahun 1960-an, ketika Soe masih menjadi aktivis mahasiswa kala itu,” begitu bunyi naskah buku kecil acara “Mengenang Seorang Demonstran”, (berisikan antara lain diskusi panel soal bangsa dan negara Indonesia ini), yang bakal diselenggarakan Iluni FSUI dan Alumni Mapala UI.
Kasih Batu dan Cemara
Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Soe yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), di benak saya mulai tergali suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di Gunung Semeru.
Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya Gunung Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, bersama Maman saya terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan. Kami menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru.
Di depan kelihatan Soe sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan. Sempat pula kami berpapasan dengan Herman dan Idhan. Kelihatannya kedua teman itu akan menjadi yang paling akhir mendaki ke Mahameru.
Dengan tertawa kecil, Soe menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, “Simpan dan berikan kepada kepada ‘kawan-kawan‘ batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI.” Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum bersama Maman saya turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).
Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, kami menunggu datangnya Herman, Freddy, Soe, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.
Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. “Soe dan Idhan kecelakaan!” katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, kami berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Soe, dan Idhan berkali-kali.
Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Soe dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Kami berharap semoga Soe dan Idhan cuma pingsan, besok pagi siuman lagi untuk berkumpul dan tertawa-tawa lagi, sambil mengisahkan pengalaman masing-masing.Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan. Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta kami menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.
“Cek lagi keadaan Soe dan Idhan yang sebenarnya,” begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, kami berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, kami yakin kalau Soe dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Kami jumpai jasad kedua kawan kami sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil Gunung Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Kami semua diam dan sedih.
Mengapa Naik Gunung
Sejak dari Jakarta Soe sudah merencanakan akan memperingati hari ultahnya yang ke-27 di Puncak Mahameru. Malam sebelumnya, tanggal 15 Desember, dalam tenda sempit di tepi hutan Cemoro Kandang, Soe yang amat menguasai lirik dan falsafah lagu-lagu tertentu, meminta kami menyanyikan lagu spiritual negro, Nobody Knows, sampai berulang-ulang. Padahal irama lagu ini monoton sampai sudah membosankan kuping dan tenggorokan.
Idhan yang pendiam, cuma duduk tertawa-tawa, sambil mengaduk-aduk rebusan mi hangat campur telur dan kornet kalengan. Malam dingin dan hujan itu, kami bertujuh banyak bercerita, termasuk mendengarkan rencana Soe yang mau berultah di puncak gunung. “Pokoknya gue akan berulang tahun di atas,” katanya sambil mesam-mesem. “Nyanyi lagi dong. Lagu Donna Donna-nya Joan Baez itu bagus sekali.”
Pagi hari nahas itu, sebelum berkemas untuk persiapan pendakian ke puncak, kami sarapan berat. Soe yang biasanya cuma bercelana pendek, kini memakai celana panjang dengan sepatu bot baru. Bahkan dia mengenakan kemeja kaus warna kuning dengan simbol UI di kantung. “Keren enggak?” Tanyanya.
Rombongan pun berjalan mendaki, menuju Puncak Mahameru dari dataran di kaki Gunung Bajangan. Soe sebagaimana biasanya, selalu memanggul ransel besar dan berat, berjalan gesit sambil banyak cerita dan komentar. Ia mengisahkan bahwa di sekitar daerah itu pasti masih banyak harimau karena dia menemukan jejak kakinya. Dia juga menyebut kalau Cemoro Kandang berlumpur arang gara-gara kebakaran hutan pinus tahunan, sebagai pertanda seleksi alam dan proses regenerasi tanaman hutan.
Dosen sejarah ini terus nyerocos kepada mahasiswanya (saya), asal muasal nama recopodo alias arca kembar, serta mitologi Puncak Mahameru yang berkaitan dengan nasib Pandawa Lima dalam pewayangan Jawa. Namun sang mahasiswa juga membayangkan dengan geli, betapa kagetnya wakil DPR-RI saat itu ketika menerima bingkisan dari kelompok Soe berisi gincu dan cermin sebagai perlambang fungsi anggota DPR yang banci. Sayang, cuma segitu ingatan saya tentang Soe pada jam-jam terakhirnya.
Yang masih tetap terngiang justru rayuan dan “falsafahnya”, kala mengajak seseorang mendaki gunung. “Ngapain lama-lama tinggal di Jakarta. Mendingan naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan, seseorang itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan dekat dengan rakyat di pedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan jiwa juga sehat. Makanya yuk kita naik gunung. Ayo ke Semeru, sekali-kali menjadi orang tertinggi di P. Jawa. Masa cuma Soeharto saja orang tertinggi di P. Jawa ini,” kira-kira begitu katanya, sambil menyinggung nama mantan Presiden Soeharto, nun sekitar 30 tahun lalu.
Memang pendakian ke Semeru ini merupakan proyek kebanggaan Mapala FSUI 1969. Soe dengan keandalannya melobi kiri-kanan, mampu mengumpulkan dana untuk subsidi penuh beberapa rekan yang mahasiswa bokek sejati.
Singkat cerita, musibah sudah terjadi. Soe mungkin tidak membayangkan betapa kematiannya bersama Idhan Lubis bikin repot setengah mati banyak orang. Kami yang ditinggal dalam suasana tak menentu, selama sembilan hari benar-benar hidup tidak kejuntrungan. Selain puasa sampai tiga hari karena kehabisan makanan, kami makin sedih saat menerima surat dari Tides via kurir, menanyakan keadaan Soe dan Idhan.
Herman, kami sudah sampai di Gubuk Klakah hari Kamis pagi, sesudah jalan sepanjang malam (sekitar 20 jam). Pak Lurah menyanggupi tenaga bantuan 10 orang dan bekal. Mohon kabar bagaimana Soe, Idhan, dan Maman dll. secepatnya mendahului rombongan … Tides dan Wiwik 18-12-69.
Saya pun terpilih menjadi kurir, mendahului rombongan sambil membawa surat untuk Tides. Isinya apalagi kalau bukan minta bantuan tenaga dan bahan makanan. Herman pun menulis surat: Saya tunggu di Cemorokandang dan bermaksud menunjukkan “site” tempat jenazah Soe dan Idhan … kirimkan: gula/gula jawa, nasi, lauk, permen, pakaian hangat … sebanyak mungkin!
Akhirnya, semua bantuan tiba. Seluruh anggota rombongan baru berkumpul lagi pada tanggal 22 Desember di Malang. Kurus dan kelelahan. Maman terpaksa dirawat khusus beberapa hari di RS Claket. Sedangkan Soe dan Idhan, terbaring kesepian di dalam peti jenazah masing-masing. Untuk terakhir kali, kami tengok Soe dan Idhan. Soe yang mati muda, terbujur kaku dengan kemeja tangan panjang putih lengkap dengan dasi hitam. Jenis barang yang tidak mungkin dipakai semasa hidupnya.
Monyet Tua Yang Dikurung
Kalau diingat-ingat, selama beberapa minggu sebelum keberangkatan dengan kereta api ke Jatim, Soe memang suka berkata aneh-aneh. Beberapa kali dia mengisahkan kegundahannya tentang seorang kawan yang mati muda gara-gara ledakan petasan. Ternyata dalam buku hariannya di CSD, Hok Gie menulis: “… Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru ….”
Soe yang banyak membaca dan sering diejek dengan julukan “Cina Kecil”, memanfaatkan kebeningan ingatannya untuk menyitir kata-kata “sakti” filsuf asing. Antara lain, tanggal 22 Januari 1962, ia menulis: “Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
Soe yang penyayang binatang (dia memelihara beberapa ekor anjing, banyak ikan hias dan seekor monyet tua jompo), sebelum musibah Semeru itu sempat berujar: “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”
Arief Budiman, sang kakak yang menjemput jenazah Soe di Gubuk Klakah, juga merasakan sikap aneh adiknya. Sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang … makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan … Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.” (CSD) Arief sendiri mengungkapkan, ibu mereka sering gelisah dan berkata: “Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang.” Terhadap Ibu, dia cuma tersenyum dan berkata: “Ah, Mama tidak mengerti”.
Arief pun menulis kenangannya lagi: … di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram karena voltase yang selalu naik turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, sering kali masih terdengar suara mesin tik … dari kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangan … saya terbangun dari lamunan … saya berdiri di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik, “Gie kamu tidak sendirian”. Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yag saya katakan itu.
Mimpi seorang Mahasiswa Tua
John Maxwell yang menyusun disertasinya, Soe Hok Gie – A Biography of A Young Indonesia Intellectual (Australian National University, 1997), menjabarkan betapa banyaknya komentar penting terhadap kematian Hok Gie. Harian Indonesia Raya yang masa itu sedang gencar-gencarnya mengupas kasus korupsi Pertamina-nya Ibnu Sutowo, memuat tulisan moratorium tentang Soe secara serial selama tiga hari.
Mingguan Bandung Mahasiswa Indonesia, mempersembahkan editorial khusus:
…Tanpa menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe Hok-gie, kita hanya bisa berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model seorang pejuang tanpa pamrih … kita membutuhkan orang seperti dia, sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur kita manakala kita melakukan kesalahan.
Di luar negeri, berita kematian Soe sempat diucapkan Duta Besar RI Soedjatmoko, di dalam pertemuan The Asia Society in New York, sebagai berikut:
… Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok-gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi muda pasca kemerdekaan …. Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan … bagi saya ia memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat itu.
Kepada Ben Anderson, pakar politik Indonesia yang juga kawan lengket Soe, dalam salah satu surat terakhirnya, Soe menulis,
… Saya merasa semua yang tertulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput petasan. Dan semuanya ingin saya isi dengan bom!
Dari cuplikan berbagai tulisan Soe, terasa sekali sikap dan pandangannya yang khas. Misalnya, Soe pernah menulis begini:
Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama – buruh – dan pemuda, bangkit dan berkata – stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Khusus soal mahasiswa, menjelang lulus sebagai sejarawan, 13 Mei 1969, Soe sempat menulis artikel Mimpi-Mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua. Dalam uraian tajam itu, ia menyatakan:
… Beberapa bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan … Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.
Saat dirinya masuk korps dosen FSUI, secara blak-blakan Soe mengungkap ada dosen yang membolos 50% dari jatah jam kuliahnya. Bahkan ada dosen menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan mahasiswa itu dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata tidak tahu berbahasa Inggris.
Masih di seputar mahasiswa, dalam nada getir, Soe menulis:
… Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka.
Khusus untuk wakil mahasiswa yang duduk dalam DPR Gotong Royong, Hok Gie sengaja mengirimkan benda peranti dandan. Sebuah sindiran supaya wakil mahasiswa itu nanti bisa tampil manis di mata pemerintah. Padahal wakil mahasiswa itu teman-temannya sendiri yang dijuluki “politisi berkartu mahasiswa”. Langkah Soe ini membuat mereka terperangah. Sayangnya, momentum ini kandas. Soe Hok Gie keburu tewas tercekik gas beracun di Puncak Mahameru.
Berpolitik Cuma Sementara
John Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran (November 1999), menulis begini,
“Saya sadar telah menulis tentang seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini dengan masa depan yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas.”
Kita telah memperhatikan bagaimana Soe Hok Gie terpana politik dan peristiwa nasional, setidak-tidaknya sejak masih remaja belasan tahun … namun hasratnya terhadap dunia politik, diredam oleh penilaiannya sendiri bahwa dunia politik itu pada dasarnya lumpur kotor. Semua orang seputar Soekarno dinilainya korup dan culas, sementara pimpinan partai dan politisi terkemuka, tidak lebih dari penjilat dan bermental “asal bapak senang”, serta “yes men”, atau sudah pasrah.
Pandangan ini menjadi latar belakang pembelaan Soe akan kekuatan moral dalam politik di awal tahun 1966. Keikutsertaannya dalam politik hanya untuk sementara. Pada pertengahan tahun yang sama, dia menyampaikan argumentasi bahwa sudah tiba saatnya bagi mahasiswa untuk mundur dari arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas, membangun kembali institusi politik bangsa.”
Demikian tulis Maxwell.
Soe memang sudah bersikap. Dia memilih mendaki gunung daripada ikut-ikutan berpolitik praktis. Dia memilih bersikap independen dan kritis dengan semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang begitu produktif dalam pelbagai artikel di media cetak. Namun secara diam-diam, Soe ternyata juga menumpahkan unek-uneknya dalam bentuk puisi indah. Salah satunya Mandalawangi-Pangrango yang terkenal di kalangan pendaki gunung.
Pemuda lajang yang sempat pacaran dengan beberapa gadis manis FSUI, selain kutu buku, macan mimbar diskusi, kambing gunung, tukang nonton film, juga penggemar berat folk song (meski sama sekali tak becus bernyanyi merdu). Berbadan kurus nyaris kerempeng, di gunung makannya gembul.
Bagi pemuda dan khususnya mahasiswa demonstran, masih ada potongan puisi Hok Gie yang sempat tercecer, baru muncul di harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973. Judulnya “Pesan” dan cukilan pentingnya berbunyi:
Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi.
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
3 Mei 2007 at 15:33
hmm saya suka ama isi bukunya .. sebernya gara-gara nonton pelemnya yang garapan Mira.. so akhirnya jadi pengen beli nih buku .. deket rumah ada toko buku baru ..plus dapet diskon .. lumayn .. So.. sekarang tiap pagi .. jadi seneng dengerin OsT.lagunya pelem Gie .. terutama yang Donna-donna!
*heboh sendiri nih*
3 Mei 2007 at 15:44
waKtu naeK semeRu_q sempeT gx pecaYa Liat maRmer In memoRiamnYa soe hok giE_ bebeaRApa haRi sebeloM meNapakaN kakI di maHameRu gx senGAJA noNtoN FilmNya_N TernyaTa suka begeT ma Fil ituH_eH aKiRnya keTemu lagi di sesuaTu iTu di saNA….
Fell somE Things GtU…
“iNi jugx jaDi heBoh lo……
26 Oktober 2009 at 16:09
semoga ada gie gie berikutnya……
28 Oktober 2009 at 19:20
besok tepat’y 16 desember akan da gie – gie yg baru
3 Mei 2007 at 17:06
aq suka banget naek gunung n aq salut banget Gie!!!
4 Mei 2007 at 7:57
@tina
kapan2 naek gunung bareng yuk.!
7 Oktober 2009 at 19:35
ni siluet di sumbing 2001, bukan ya
4 Mei 2007 at 12:45
ehmm… ehmmm..
4 Mei 2007 at 16:16
kok ehmmm doang ?
4 Mei 2007 at 17:48
moga2 Gie puaas dng hasil kerja kerasnya selama ini…..
7 Mei 2007 at 7:57
mudah2an soe gak menangis melihat carut marutnya elite politik negeri ini
8 Mei 2007 at 1:21
emang seorang idealis menjadi terbuang klo tak ngikutin arus zaman. JADI IDEALIS MO GMN ??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????
8 Mei 2007 at 4:39
bagi temen2 yang pendukung gie dan suka nek gunung silahkan add saya…
joan_malfoy@yahoo.com
8 Mei 2007 at 7:56
@joan
gabung aja di kaskus OANC,
http://kaskus.us/forumdisplay.php?f=98
14 Juni 2007 at 3:38
gie….gokeellll!!!
waktu mei2004…gw sempet ke semeru…n pas di puncaknya gw liat batu nisan utk mengenang gie n idhan,,,,it’s simply makes u wanna to be sad,,,,hiks!!!
g kenal gie gara2 gw baca buku ‘mendaki gunung- sebuah tantangan dlm petualangan’ bikinannya alm.norman edwin yg mati di aconcagua ma didiek samsu( kalo ga’ salah)…di itu( di pendahuluannya) c norman mncoba memaparkan sosok gie yg puitis banget…puisinya Mandalawangi- pangrang0…it’s gokeelll!!!
…aku mencintai pangrango, karena aku mencintai keberanian hidup..’…keberanian itulah yang dibayar mahal oleh gie dengan kematiannya di semeru…
GIE….NOBODY KNOWS
may he rest in peace!!!
28 Juni 2007 at 8:04
semuanya… agustus 2007 bentar lagi nih. biasa pada rame juga nih pendaki-pendaki gunung yang mendaki gunung. gw kepengen ke semeru nih! kira2x ada yang mau kesana gak yah?! gabung dong… masalahnya gw sendirian (single fighter) riskan juga kalau jalan sendiri… (atut lah jelasnya). domisili gw di bandung nih… kira2x ada anak bandung gak nih yg mo daki?! atau boleh deh daerah mana juga… tar janjian dimana ketemunya… so pasti biaya masingmasinglah… hehe… contact sini aja 081321537691 biar cepet. oceh! salam gie! :p
9 Oktober 2007 at 0:19
tolong yang tau lirik lagu dont so hok gie kirimke amil ku ya
lama_long@yahoo.com
thankz ILve you all
16 November 2007 at 12:28
Pada tanggal 30 desember 2005 gwa mau ngunjungin sang aktivis sejati (soe-hok-gie), tapi sayang tidak kesampean karna pada saat itu mahameru tidak mengijinkan gwe menemui sang aktifis sejati (soe-hok-gie) tersebut,mudah-mudahan pada akhir februari 2007 gwe bisa nemuin sang aktifis sejati (soe-hok-gie) tersebut.
1 Desember 2007 at 10:25
apa kabar. kira – kira tanggal 29 desember ini apa akan diadakan pendakian lagi ke gunung semeru kaga’. biasanya pendakian ke semeru dilakukan pertahun akan tetapi gara – gara kondisi dompet dan gunung semeru yang sering berubah ubah agustus kemarin tidak jadi kesana. akan tetapi sya sampe’ sekarang sangat pengen sekali untuk melakukan pendakian lagi. oh ya kalo akan ada pendakian lagi saya ikut ya, ketemuan di ranu pane atau tumpang. ato dikirimin email atau sms aja ke nomer hp saya 08883233394. aku tunggu.
24 Januari 2008 at 21:14
gw berangkat tgl 23 januari 2008 ke semeru, ternyata sampai disana pendakian sedang ditutup karena badai dan sedang ada pemasangan papin pada 4 km jalur pendakian. gw bakal balik lagi sekitar bulan juni , yang mau bareng hub gw. 0856 8852310
23 Maret 2008 at 12:48
“satu2nya kepastian di dunia ini adalah ketidakpastian” (albert enstein)
klo ada rencana pendakian ke mahameru GW IKUT…!!!
kasih tau k fs gw navalon.thewater@yahoo.com
23 Maret 2008 at 15:24
ku kagum bgt ma GIE..Oia,kasih2 kbar ke ank2 pencinta alam bengkulu y..slam LESTARI
30 Mei 2008 at 11:28
ichal tauu…
top bgt bukunya..gw aja sampe nonton filmnya berkali-kali..
semoga arwahnya diterima disisinya…
TUHAN BERSAMA ORANG-ORANG YANG BERANI
31 Mei 2008 at 8:28
apa yg sdh kau lakukan dulu , skrg dicontoh oleh demonstrans 2 yg tdk pernah baca cerita kamu . sehimggga apa yg mereka lakukan sngt jauh berbeda dng apa yg kau lakukan . semoga ada relawan seprtimu lagi . gie
1 Juni 2008 at 5:27
wowwww
14 Juni 2008 at 16:53
salam rimba,
soe hok gie & idhan lubis.
sapu tangan mnahan tangis ddesember mnabur gerimis
sbuah kta2 yg trtulis di batu inmemories di mahameru,
ktika sjarah gie mulai di gali lagi bnyak diantara rekan pndaki naek k smeru cma ingin ngliat inmemories soe & skarang alhamdillah tugu itu jd lbh trkenal ktimbang wedhus gembel, klo inget tntang soe jd inget tmn gw yg tatoan n’ juga gondrong tp smpet juga nangis saat baca buku CDS, wlo dgn gengsi N gk mo ngaku klo nangis tp ktahuan juga klo nangis kwn tu bilang” aku trenyuh karo wong ki, tiba’e enek to critane arek minggah gunung ngantek koyok ngene”
soe… skali lagi bunga negri ini trsebar
dan aku harap skali lagi akan ada orang ke 2 yang punya jiwa spertimu, amin
8 Juli 2008 at 23:27
I.ALLOH anak Pagusa+Woang Alas Porong berangkat ke Semeru waktu Agustus tiba kira2 tgl 10 Agust,tp lwt Bromo dl krn ada yang perlu di laksanakan di sana.Salam Hiking
10 Juli 2008 at 4:39
yaaahhh….gie..?
apa seh perubahan yg dilakukan oleh gie?
24 Juli 2008 at 19:55
gie…..
tenang bersama alam
26 Juli 2008 at 11:12
it’ great film
menunjukkan cinta kepada orang-orang tertindas
puisinya MANTAP euy………..
27 Juli 2008 at 23:22
Salut Buat Gie,….
Teguhnya hatimu seteguh puncak gunung,…
tenangnya hatimu setenang telaga gunung,….
tajamnya pemikiranmu setajam gas racun gunung,….
kerasnya emosimu sekeras letupan kawah gunung,….
========================================
membaca kisah mu, membuat ku teringat akan pengalaman yang menyenangkan saat berada di puncak, menjadikan orang yang tertinggi diatas permukaan laut, dan menjadikan orang yang benar-benar kecil dipelukan lerengmu.
18 Agustus 2008 at 20:55
gw bs bayangin hiking k semeru pd zaman nya Gie………..mgkin dia mulai star g dr ranu pane…mgkin dr psr plumpang x ya….carril nya aja qt tau carril zamaqn dulu…..sakit nya parah d pundak…..salut tuk Gie n team.
1 September 2008 at 17:13
gw pengen banget naik ke semeru,,, ada yang punya rencana buat naik ke semeru ga ?
pengen banget
12 September 2008 at 11:50
Salam Rimba Bwat Semua Pecinta Alam
19 September 2008 at 17:18
HAL yg trindah bwt gw ktika masih bsah mngadah’mncntai burung2,mari sejenak mnghndar dari hiruk pikuk kota, kita beargkt k gunung,memahami maha agung karyax.
19 September 2008 at 19:58
Setiap kali kaki menginjak tanah berdebu arcopodo aku menundukkan wajah didepan tugu inmemoriam soe hok gie & idhan lubis menebar doa, nama soe & idhan akan selalu menjadi catatan bagi setiap mereka yang sempat menginjakkan kaki ditanah berdebu arcopodo. Akupun pernah sempat melawan dinginnya arcopodo tepat disebelah barat tugu dimana ada sebuah gua kecil. Indahnya & pesona Semeru yang membuatku cukup sering menjenguknya. Semoga Semeru tetap terjaga keindahannya agar cucuku yang sekarang masih berumur 1,5 th kelak masih sempat menikmati pesona & indahnya Semeru….Amin.
23 Oktober 2008 at 23:34
gunung semeru gunung yang paling bagus yang pernah gue daki
25 November 2008 at 16:14
Semeru memang beautiful and sungguh2 tidak dapat dilupakan, pesonanya, tantangannya dan keindahan alamnya …. so jangan sampai terlewatkan untuk mendakinya ……
17 Desember 2008 at 20:44
Gunung Semeru adalah surganya Indonesia….
Untuk Lo Semua Yang Belom Pernah Naek Semeru…
Lo harus Coba…….
_Salam Lestari_
31 Desember 2008 at 0:35
Gie !
2 Januari 2009 at 8:33
mungkin bagi manusia2 yg tak mngenal nikmatnya mencintai alam
atau tak mau tahu carut marutnya dunia politik negri ini
akan berkata: siapa “Gie”???
tapi bagi ku,
Dia adalah sosok yang hebat
bukan hanya tekannya yang kuat
kebiasaan dan hobby yang dasyat
atau ku suka hanya karna puisi2nya yg mendayu-dayu
Aq hanya sebagian dari manusia dibumi ini yang merindukan putihnya dunia politik
atau Aq adalah mahasiswa miskin yang haus akan tegaknya kebenaran
Aku suka akan pemikiran2 nya yang diluar kemampuan ku
aku suka tekat yang ingin merubah Indonesia,
I LOVE U “Gie”
8 Januari 2009 at 12:26
gw gak akan pernah ngelupain mahameru……
tuhan bener2 amazing…..
31 desember 2008 aq berada di tanh paling tinggi di jawa… bersama nisan sok hoe gie..
8 Januari 2009 at 13:00
Mahameru Puncaknya Para Dewa ….
Recomended Trakking
11 Januari 2009 at 19:56
salam lestari,,,
gara2 nonton gie 2 taun yg lalu, ma baca 5 cm 1 taun yg lalu,,gw pengen bgt ke semeru,,tapi,,keadaan dompet tidak mengizinkan,
taun ni gw harus ke semeru!!
14 Januari 2009 at 12:01
aku sudah pernah mengujunginya!!! di puncak 3.676!!! puncak para dewa!!!
tapi sayang aku belum sempat berfoto disana!!! karena awan panas menyergap kamI!!!
tapi aku berjanji akan kembali!!! puncak para dewa wait me!!!
18 Januari 2009 at 0:09
untuk pengabdi
lagu para pengabdi
di puncak gunung
di tengah tengah samudra
di dalam rimba
di kebingungan dan desa
mahameru i comming
gie abadi di setiap pecinta alam
19 Januari 2009 at 12:47
SETELAH MEMBACA BUKU BERJUDUL 5 CM, AKU MERASA BAHWA AKU INI BUKAN APA2 DIBANDINGKAN DENGAN SOE HOOK GIE DIA BENAR2 PEMBERI SEMANGAT KAMI SAYA DALAM MENGGAPAI IMPIAN YAITU INGIN TERUS MENDAKI GUNUNG SAMPAI HATI INI BISA TENANG
19 Januari 2009 at 12:53
kapan ya aku bisa merasakan berada dipuncak mahameru yang indah dan membuat para pendaki menjadi pensiun setelah naek gunung semeru ini, apabila ada yang mo kesana tolong kabarin atau email ke ewank_chast@yahoo.com. salam buat anak-chast kapan ketemuan lagi.
29 Januari 2009 at 14:57
boleh dunk ngajak saya untuk mendaki gunung bersama-sama coz saya kepengen banget untuk bisa menaklukkan gunung-gunung yang ada di indonesia….
don’t forget me ok..!!!
see u tahnk’s
2 Februari 2009 at 9:42
aduhh dari dulu sampe skrg blm dpt bukunyaa..
jd pengen baca.!!!
4 Februari 2009 at 13:22
gw 2 kali naek semeru di medio 90an, lom ada tuh GIE2 an ….GA DA MATINYA ! bisa liat pantat cina pula…hehehe, watsup ma man, Ban Lie…..kpn lagi niy…..(lumayan buat cerita anak cucu…..)
6 Februari 2009 at 22:18
aku menangis dalam hati ku bahwa dunia ini memang penuh lumpur kotor
7 Februari 2009 at 9:27
salut dan acungan 2 jempol buat GIE & IDHAN.5x gue ke semeru pasti ku temukan marmer putih d puncak mahameru
7 Februari 2009 at 9:28
salut dan acungan 2 jempol buat GIE & IDHAN.5x gue ke semeru pasti ku temukan marmer putih d puncak mahameru.moga kalian berdua tenang d alam sana
11 Februari 2009 at 19:27
salut dan bangga
12 Februari 2009 at 2:54
Aq sngt bgga dg p’juangan soe ho gie,,,,
qt2 smua hrs dpt mnruskan perjuangannya,,,,,,
SALAM LESTARI,,,,,,,,
17 Februari 2009 at 17:25
We salute you!!
ada yang mau ngedaki g nih? ajak2 dong.
tmn2 saya susah bgt diajak naik gunung, pengen banget naik Semeru… masa sendiri..
kabarin yah atau k email jackminus@hotmail.com
makasih…
3 Maret 2009 at 22:30
kamimerencanakannaikkepuncakmahamerutanggal17juli2009bagiyangmaunaik…kitaketemuandipuncaknyaajah…hehehe…mymailin:punokawan@gmail.com
15 Maret 2009 at 12:05
waw…
aq gak pernah naik smpe puncak mahameru,,cuman pernah sampe ranu pane doank..
pengeeeen banget liburan semester ini naik smpe mahameru..ada rencana sih ama beberapa temen2,tapi gk ada yg punya pengalaman nih,,takut nyasar…buat temen2 yang punya rencana jg sekitar bulan juli-agustus,,bole bareng gak?? kabarin yah..ke email riwe_caem@yahoo.com
16 Maret 2009 at 13:26
Gw sneng bnget sm gie,alnya gw pernah naik bareng sama om herman lantang,anak nya om herman juga pernah main bareng,hebat om herman
17 Maret 2009 at 18:03
Last year on Rinjani
This year……
Insya Allah The Greatfull SEMERU
Yg ada rencana, kontak2 ya
ninabobo_35@yahoo.com
24 Maret 2009 at 16:08
SOE HOK GIE
Extraordinary man….
time my pass, but your memory still remains.
salute for your attitude and sacrifation for this country.
“RESPECT”
Ranu kumbolo…….. I Love Youuu…
Tanjakan cintaaaa….capee’ deh!!
24 Maret 2009 at 16:24
puncak mahameru udah,
puncak kenikmatan juga udah…
gunung tertinggi di jawa, udah..
gunung kembar juga udah….
Apalagi ya?! yang belom?
24 Maret 2009 at 20:09
bagi yang dah penah kesemeru tolong beri arahan pejalanan dari jakarta kemana n naik apa tuk sampai ke pos pendaftaran.makasih tolong di balasa y
gembel_hutan
27 Maret 2009 at 11:51
salam lestari.,.,!!!!!
temend2, walau aku bru tahu tentang sosok gie, tapi aq kagum bgt.,.,!!!!
doain ya, aku ama anak2 Pecinta Alam SMA 4 KOta bengkulu bakalan daki SEmeru bulan juli nanti.., bagi kawan- kawan sampai bertemu ya.,.,,.,.
pengen ketemu ama kalain semu.,.,.,
add fs aq ya di roma_potterunicorn@yahoo.com
oke.,.,
salam lestari.,.,!!!!!
1 April 2009 at 13:38
aku adalah seorang pemuda yang merasa dirinya batu yang stiap saat stiap detik sllu jatuh oelah terpaan angin di tanah paling tinggi di jawa aKu adalah AKU!!!!!!!
2 April 2009 at 11:40
aq ingin k semeruuuu..
top bet GIE
3 April 2009 at 14:39
PERJUANGANMU TAK KAN PERNAH SIA-SIA
11 April 2009 at 2:57
aku orang malang yang menentang kemenangan oleh pedang….
mencari jawaban kegelisahan hati kegelisahan manusia
21 April 2009 at 15:04
Waa… sayang gw blom pnh naek Semeru, padahal skrg udah pensiun dari acr mendaki (catatan pendakian: G. Slamet, G. Merbabu, G. Merapi), coz ga ada waktu lg =(
Btw, gw sebagai keturunan cina bangga ama rasa cinta dan patriotisme Gie untuk Indonesia.
Sudah sejak lama, Indonesia mjd Tanah Air kami (keturunan Cina – Indonesia), dan kami juga ingin terlibat membangun Indonesia menjadi negara yg lebih baik lagi.
Soe pernah menulis begini:
Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama – buruh – dan pemuda, bangkit dan berkata – stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Stop diskriminasi, mari kita bangun Indonesia menjadi negara yang berkualitas, berkompetensi, dan berdaya saing!!! =)
Salam,
Huang
20 Mei 2009 at 7:52
life is simple
22 Mei 2009 at 10:19
dasar wong edan….
naik gunung mati buat cewek…
berpolitik ga ada yang tuntas…
jadi gie itu apaan…
26 Mei 2009 at 0:58
Salut buat Gie
Beberapa tahun sebelum saya mendaki Mahameru, saya membaca sebuah tulisan di surat kabar yang memuat tentang Semeru, dan didalamnya terdapat sedikit cerita tentang Soe Hok Gie. Sejak saat itu saya tertarik dengan kisah Gie, saya berusaha mencari cerita yang lebih lengkap tentang Gie, namun saat itu masih agak susah.
Tahun 2005 akhirnya film Gie dirilis, saya menonton dengan hikmat. Dan pada H+1 Idul Fitri 2005, saya berhasil mendaki gunung Semeru hingga puncak, dan sempat memberikan penghormatan di batu nisan Soe Hok Gie.
Sudah waktunya kita menjadi generasi penerus bangsa yang lebih baik..
22 September 2009 at 14:18
Salut buat lu Tirta… jangan lupa ya klu lu dan teman2 yg lain pada mau Hiking ke Semeru lg… ajak2 gw ya.. pls contact gw di kiki_jovi@yahoo.com… tks a lot
26 Mei 2009 at 11:36
Salam kenal,
Ada yang berminat ke Semeru akhir Juni blum ada temen bareng ke sana, kali2 aja bisa ada barengannya ke sana.
Salam,
11 Juni 2009 at 23:25
kebetulan saya dan rombongan ada rencana ke sana, boleh juga dibarengin, tgl brp brur?, ngomong2 sendirian aja ne?,
28 Mei 2009 at 12:32
big appreciate for Gie..i’ll go Semeru next month..wanna see n wanna feel..how to life with feedom..Gie..waiting for me
28 Mei 2009 at 12:32
big appreciate for Gie..i’ll go Semeru next month..wanna see n wanna feel..how to life with freedom..Gie..waiting for me
11 Juni 2009 at 23:23
hal yang paling mengharukan ketika tangan mengusap membersihkan batu soe hok gie dan idhan lubis,what a great volcano and their history,
14 Juni 2009 at 10:49
aku dan keluargaku (3 orang) dalam seminggu ini akan berangkat ke semeru, berhubung masih pemula dalam hal ini mohon kakak2 yg profesional dan berpengalaman bisa memberikan saran dan bantuan, apa2 saja yang harus disiapkan sebelum ke semeru.
14 Juni 2009 at 10:50
rencananya aku dan keluargaku (3 orang) dalam seminggu ini akan berangkat ke semeru, berhubung masih pemula dalam hal ini mohon kakak2 yg profesional dan berpengalaman bisa memberikan saran dan bantuan, apa2 saja yang harus disiapkan sebelum ke semeru.
17 Juni 2009 at 14:00
jaket yang tebal, makanan yang banyak, sehat jasmani & rohani, ikuti jalur pendaki jangan pontong jalur
17 Juni 2009 at 13:26
semeru…….hukz…dulu waktu msh smster 1 waktu jalan2 ma kakakq ngga sengaja nyampe ke ranu pane….wiiiih….subhanallah….emg bener2 beda..
there’s something here…tapi wktu it g bawa ap2 emg niatnya cm mw liat bromo doank…
smpe skrg belum sempet ksana….
rek…agustus ini yuk? k sana..k tanah tertinggi d pulau jawa.. k samudra d atas langit.. ^_^
17 Juni 2009 at 14:02
gw kangen ama puncak semeru, suatu saat gw ama istri ke puncak semeru, sekalian pul-kam ke malang
24 Juni 2009 at 18:13
mantaffffff bung …..
2 Juli 2009 at 1:01
gie….
telah temukan jalan pulang.
2 Juli 2009 at 18:49
mahameru suatu saat aku akan ada bersamamu kembali…
“untuk para pendahulu…doaku menyertaimu”…
salam rimba…
4 Juli 2009 at 10:38
pertengahan juli ini gw ma temen2 ada rencana ke Mahameru,,, doain ya… mudah2an bisa sampai puncak,, baca kisah gie ini makin membuat penasaran dan ga sabar ke sana.. btw, jalur n track ke sana gimana ya.. maklum gw masih amatiran..
15 Juli 2009 at 10:37
Salut !…… Buat Gie Petualang sejati…..
21 Juli 2009 at 3:20
salam rimba
rencna nya akhir bln september ini gw mw k gunung smeru..
krn w g ikutan organissi pecinta alam dan sjenisnya..jdi’y g ada tmn buat ngdaki..klo ad tmn2 atw kk2 yg punya rncna sama..gw mw ikut gbung..klo g kberatn..
tlng hub w via email..(nuga_pratama@rocketmail.com)
atw via tlp/sms (085885487567)
thx
24 Juli 2009 at 16:27
kenangan akan gie, lembah mandalawagi selalu akan menginspirasi setiap pemuda
29 Juli 2009 at 13:28
buat anak la-round XPDC, m@ate, compors corp. reuni di semeru yuk…….
29 Juli 2009 at 14:43
ak gk prnh hbs pkir sm anak2 PA yg ngakunya PA tp sll ninggalin cinderamata di gunung.vandalisme kok trs,pgn marah tp ma sp?tlg deh kl mo bkin knangan naik gnung, ckup dgn foto tnpa ngerusak batu ato pohon.pgn bgt ke smeru tp apa daya hehe smangt trs buat smuanya yg suka nyambangi gunung.stop corat coret!
2 Agustus 2009 at 9:14
kenangan semeru desember 1991….badai,kuyup,sakit dan menggigil.semua sirna dengan canda ,tawa,indahnya RANUKUMBOLO dan kebulan cendawan di puncak mahameru.
3 Agustus 2009 at 2:23
setujuh sama dewi…
14 Agustus 2009 at 9:23
hehe pastinya!
3 Agustus 2009 at 16:37
semoga selalu teriring doa untuk para pendaki yang hilang. terutama untuk temanku sesama pendaki setia yang meninggal saat ekspedisi semeru. Andika Listiono mahasiswa AN FISIPOL UGM. semoga mimipi indahnya didunia terngiang saat ia menghenbuskan nafas terakhir dan senyum kepuasan mengukir dibibirnya karena ia meninggal di tanah teringgi di P jawa. amin. Bye Andika.
16 Agustus 2009 at 20:49
turut berduka buat andika yg kbetulan jg brasal dari satu kota denganku, mojokerto. smg tenang di alamnya dan pengalamnnya bs dijadikan pelajaran bt kita smw.
19 September 2009 at 12:19
bawa terus semangat sinyo! XD
10 Agustus 2009 at 22:45
gie…kami merindukanmu…..
11 Agustus 2009 at 14:15
Soe memang sudah meninggal, tp semangatnya harus tetap ada….
Sulit kita cari belakangan ini seorang intelektual yang tulus, yang mampu berbicara dan bertindak atas nama kemanusian & keadilan…
kita sangat mendambakan sebuah negara yang demokrasi seperti yang dicita-citakan Soe…
Tanpa ada korupsi, kemunafikan dan keserakahan penguasa & politisi…
kita muak dengan keadaan ini…
kami rindu kamu “SOE”
23 Agustus 2009 at 11:09
kereeeeeen bgt gie…..
kmaren q bru sja dri ranupane,tp bkn karena q pngen ksana tp gra2 q kesasar. sbnarx tujan utamaku mo ke bromo tp kesasar smpe sana,,,
indah bgt,,,
g rugi q nyasar smpe sna.
q pngen bgt naek ke mahameru.mngkin next time…
26 Agustus 2009 at 19:18
GIE,I Love You Full, aku pernah tercenung di Bulan Agustus 2005 di Marmer Putih In Memoriam mu, Puncak Mahameru….Rejim yang akan kau tumbangkan, sudah ditumbangkan oleh Anoman (Arek Nom Noman/Mahasiswa) Insya Allah Indonesia akan lebih Baik, seperti yg engkau Impikan…Rimbaraya dan keganasan Junggring Saloko telah menguburmu… selamat jalan kawan, menuju keabadian.
27 Agustus 2009 at 2:42
Perasaan kuat dan haru sangat terasa ketika menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya di puncak mahameru depan Bendera merah putih dan monume SOE HOK GIE…….
19 September 2009 at 10:29
engkau telah menginjakan kaki k puncak tertinggi gie..puncak semeru bukanlah puncak yg sesungguhnya puncak sesungghnya ialah puncak yg telah kau pijak saat ini d alam sana,mahameru adalah tempat menenangkan diri dari hiruk pikuk orang2x yg sibuk dgn egonya sendiri.selamat jalan Gie..semoga di puncak tertinggi sana ketenangan sejati engkau dapatkan & perjuangan mu akan sellalu kami ingat dan kami teruskan.
19 September 2009 at 10:33
oktbr mudah2xan jd k semeru Amin,,,,!!
22 September 2009 at 14:14
Gie… sosok Mu emang tiada duanya…
duh, belum kesampaian nih pengen hiking ke SEMERU…
buat teman2 yg mau hiking ke Semeru akhir tahun ini atau awal tahun depan… tolong di info ya.. biar bisa nabung,hhehehe… & hiking rame2 bersama dengan teman2 lainnya.. tolong di info ke kiki_jovi@yahoo.com.. thx a lot ya..
7 Oktober 2009 at 19:51
gie…
hanya nama mu yang ku tahu,dari cerita para pendahulu…
pernah ku bangga akan arti dunia, merasa jiwa petualang dalam diri,bangga menjadi pendaki di waktu muda..
tapi…
detik ini pun jejak ku tak menjamah semeru mu (gie)..
gie..
semangat mu belum meresap dalam jiwa ku,
betapa susah menaklukan diri sendiri,
tuk menjadi petualang sejati yang mempunyai harga diri sampai mati..
9 Oktober 2009 at 8:58
pengen ke ranu kumbolo…
eh, benar tidak ya tulisannya?
katanya tiap pagi selalu ada awan yang mengambang diatasnya, seperti semacam kabut…
wah…
pasti sangat indah…
terimakasih…
25 Oktober 2009 at 15:00
salut…
2 November 2009 at 20:28
GIE…….
YOU ARE MY MOTIVATION TO BE RIGHT NOW