Climbing, Melawan rasa takut

Berawal dari perjuangan manusia untuk survive, panjat tebing menjadi olahraga yang digemari. Sebuah pertarungan untuk mengalahkan rasa takut sambil terus bisa menyatu dengan alam.

Alaman manusia adalah dua kutub yang selalu akan mencari sebuah titik keseimbangan. Tantangan yang diberikan alam membuat manusia berusaha mengalahkannya untuk bisa survive. Perjalanan yang dilakukan oleh manusia melintasi gunung dan bukit untuk mempertahankan hidupnya adalah awal dari olahraga pendakian gunung (mountaineering).

Sejarah juga mencatat perjalanan pasukan perang zaman dulu, seperti Hannibal, panglima perang Kerajaan Chartage yang melintasi Pegunungan Alpen sekitar abad kelima. Petualangan Genghis Khan, panglima tentara Mongol yang terkenal itu, ketika melintasi Pegunungan Karakoran dan Kaukasus untuk menaklukkan Asia Tengah, tak bisa dilepaskan dari munculnya kegiatan menaklukkan gunung ini.

Ketika Dr. Michel-Gabriel Paccard dan Jaques Balmat berhasil menaklukkan Puncak Mont Blanc (4087 m) di Prancis pada Agustus 1786, minat orang terhadap olahraga ini semakin besar. Sejak itu, semakin sering para penggemar olahraga ini mencoba untuk menundukkan puncak-puncak ternama di dunia, seperti Alpen dan Everest.

Dalam perkembangan selanjutnya, para pendaki berusaha mencari kegiatan yang lebih menantang. Dan, lahirlah olahraga panjat tebing atau rock climbing yang merupakan salah satu bagian dari mendaki gunung. Panjat tebing sebuah olahraga yang menarik minat karena tantangan yang diberikan cukup besar, disamping faktor petualangan dengan alam yang cukup dominan di dalamnya.

Meskipun menjadi olahraga di alam bebas dan bisa dinikmati oleh siapa saja, panjat tebing — seperti juga olahraga yang lai –memiliki etika dan aturan tertentu. Ada tiga norma pokok yang harus diperhatikan. Pertama adalah teknik pembuatan jalur. Umumnya terdapat dua cara dalam pembuatan jalur, tradisional dan modern. Pembuatan jalur sambil memanjat adalah teknik tradisional. Lintasan yang dilewati sama sekali baru, tanpa dicoba terlebih dahulu. Pembuatan jalur dengan teknik modern terbagi dua, yakni dengan menggunakan teknik fix rope, yakni menggunakan tali tetap dan teknik tanpa tali atau top rope.

Peraturan kedua yang harus mendapat perhatian adalah keaslian jalur. Sebuah jalur yang telah dilalui harus tetap dipelihara keasliannya. Jumlah pengaman di jalur tersebut tidak boleh ditambahkan atau dikurangi. Jumlah pengaman yang dipasang pertama kali telah menjadi jalur resmi dan menjadi paten untuk jalur tersebut.

Hal ketiga yang juga haram hukumnya bagi para pemanjattebing adalah mengubah permukaan tebing. Meskipun pengubahan bentuk permukaan tebing untuk tujuan memudahkan pemanjatan, sebagian besar pemanjat lebih setuju jika permukaan tebing tidak diubah.

Hal itu tentu untuk tetap mempertahankan tantangan yang ditawarkan oleh medan panjat tersebut. Tantangan seperti itu menyebabkan olahraga ini memiliki risiko yang cukup tinggi. Faktor risiko inilah yang membuat seorang pemanjat tebing harus memiliki beberapa peralatan untuk meminimalkan kecelakaan. Peralatan standar yang dibutuhkan adalah helm pelindung kepala, tali carmantel. Untuk menahan tali saat pemanjatan agar pemanjat tidak jatuh, dibutuhkan belay device. Beberapa jenis belay yang umum dikenal adalah ATC, Figure 8, dan Grigiri.

Sebuah alat fenomenal yang ditemukan oleh Ray Jardine pada 1973 membuat para pemanjat tebing cukup terbantu. Spring Loaded Lamming Device, biasa disebut cam, adalah alat yang dapat mengecil ketika ditarik, sehingga mudah dimasukkan ke celah tebing. Setelah dilepas kembali, akan mengambang mengikuti besar celah tebing. Selain itu, dibutuhkan juga bor tebing paku tebing. Meskipun menggunakan alat Bantu, bukan berarti panjat tebing bebas risiko.

Keselamatan adalah hal yang mudak diperhatikan oleh para pemanjat. Dan, untuk dapat memanjat dengan aman, persiapan fisik dan mental yang baik tak bisa diabaikan begitu saja. Rasa gugup dan panik harus dibuang jauh-jauh ketika melakoni olahraga ini. Jika tidak, jangan pernah berharap bisa berolahraga sambil menikmati sebuah pertarungan menaklukkan rasa takut untuk terus survive di tengah tantangan yang ditawarkan a1am.

About these ads
Explore posts in the same categories: Climbing

2 Komentar pada “Climbing, Melawan rasa takut”

  1. panji Says:

    salam kenal aj, mas….
    maaf nech aq pengen nanya, biaya peralatan untuk mengadakan refling, climbing diatas pohon serta meluncur diantara pepohonan kira – kira berapa ya? mohon perincian dengan tiap peralatannya..



    butuh detail biayanya ?
    kirim email ke catros@myself.com

  2. neng setiawati Says:

    maaf kang . pernah k tebing mna aja ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: