Gunung Kendeng

Gunung Kendeng

Tanggal 13-15 April 2001, saya dan Igun diajak oleh beberapa kawan ke G. Halimun. Saya dan Igun segera saja setuju dan berangkatlah kami berlima (saya, Igun, Danil, Edi dan Farah). Pada saat itu, tidak ada yang pernah ke G. Halimun, namun Danil pernah melihat papan penunjuk ke Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) di dekat Cibadak dalam perjalanannya dari Sukabumi ke Jakarta beberapa minggu sebelumnya. Berdasarkan hal itulah kami berangkat dan ternyata kurangnya informasi ini membawa kami ke G. Kendeng sebagaimana diceritakan di bawah ini. Disini akan diceritakan secara agak rinci, termasuk nama hotel, tarif dan lain sebagainya, agar bila ada yang ingin jalan-jalan kesana, bisa mengambil hikmah dan referensi dari cerita ini.

Kami berangkat tanggal 13 April 2001 malam, sekitar jam 21.00 dengan menggunakan kendaraan sendiri dan sekitar jam 24.00 tiba di depan papan penunjuk ke TNGH, lokasinya ternyata beberapa KM sebelum Cibadak (lihat peta), kira-kira di Parungkuda, di jalan raya Ciawi-Sukabumi. Mengikuti penunjuk, kami mulai memasuki jalan ke Kelapanunggal.

Jalanannya benar-benar gelap dan agak “mengkhawatirkan” jika mengingat ada si Farah. Pada saat menjumpai warung yang masih buka, kami mendapat info, jarak ke pos TNGH masih jauh (esoknya diketahui sekitar 30 km) dan disarankan untuk kembali pagi-pagi saja. Penasaran, kami mencari info lagi di warung berikut yang ditemui dan ternyata si empunya warung mempunyai pendapat sama dengan warung sebelumnya. Malam itu kami habiskan di restoran merangkap penginapan Selabintana (telp. 0266-221501 – 223383) di daerah Cibadak. Tarifnya Rp45.000,- per kamar.

Esoknya, 14 April 2001, setelah menitipkan kendaraan kepada satpam penginapan, kami menyewa angkot ke Pos TNGH. Pada umumnya, supir angkot mengetahui letak pos tersebut dan mematok Rp75.000,- untuk carter mengantar sampai di tempat.

Jalanan menuju pos TNGH mulus sepanjang kurang lebih 30 km (seperti jalan ke Pelabuhan Ratu), berkelok-kelok dan ada beberapa pertigaan yang mungkin harus diperhatikan dengan seksama agar tidak salah jurusan. Sekitar satu jam kemudian, kami tiba di pos TNGH. Pos ini sangat bersih dan tertata rapi seperti pos Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) dan juga ada studio untuk menonton film mengenai TNGH. Di pos ini kami membayar karcis masuk yang kalau tidak salah ingat Rp1.500,- per-orang dan asuransi Rp2.000,- per-orang. Petugas menjelaskan untuk ke Halimun, kami harus mencapai pos penelitian (namanya Cikaniki) dahulu yang jaraknya 5 jam jalan kaki melalui jalan berbatu. Atau alternatif lain menggunakan ojek, Rp30.000,- per-orang, dan alternatif terakhir carter angkot lagi. Kami mengambil alternatif terakhir dan mendapatkan Mitsubishi L-300 yang bersedia mengantar dengan sewa Rp100.000,-.

Jalan menuju Cikaniki masih berupa batu dan tanah dengan sawah, semak-semak kemudian hutan lebat di kiri-kanan, sepanjang kurang lebih 20 km dan ditempuh dalam 90 menit. Perjalanan ini, walaupun terbanting-banting terus, sangat berkesan, bagi saya sekurang-kurangnya. Dalam perjalanan, kami juga melalui beberapa sungai yang masih bening sekali airnya. Matahari terang benderang, namun udara sejuk berangin.

Petugas pos sangat ramah dan menjawab segala pertanyaan kita selama mengobrol diruang tamu yang apik dan sejuk. Dari keterangannya, selama ini tidak ada yang pernah ke puncak Halimun karena jauh dan belum ada jalannya. Dari peta wisata ditembok, memang terlihat posisi pos Cikaniki ini masih jauh dari Halimun, karena masih ada 2 gunung sebelumnya yaitu Kendeng dan Sanggabuana kalau tidak salah. Danil, si pemimpin rombongan, setelah berpikir-pikir dengan bijak, kemudian memutuskan untuk membatalkan ke Halimun dan ke Kendeng saja. Alasan dia, Kendeng telah ada jalannya dan dengan waktu yang tinggal sehari merupakan tujuan yang lebih realistis. Mengenai Halimun sendiri, ia bilang akan dicoba lain waktu dengan membawa petanya (dia instruktur orientasi lapangan, jadi kelihatan meyakinkan waktu mengucapkan itu).

Selesai makan, kami segera bersiap-siap (terburu-buru karena hujan lebat ruarrrr biasa sudah turun dari langit yang gelap) untuk mendaki Kendeng. Pada saat melalui pos, kami diingatkan oleh seorang jagawana (polisi hutan) untuk tidak menginap di hutan, karena masih banyaknya macan kumbang di sepanjang jalur pendakian dan pihak TNGH tidak bertanggung jawab bila terjadi sesuatu (yang seram tentunya). Keputusan saat itu, kita naik untuk kemudian turun kembali.

Kami telah memasuki hutan Kendeng kurang lebih beberapa ratus meter sebelum si Danil memutuskan untuk kembali saja ke pos, karena diperhitungkan hari akan telah gelap saat mencapai puncak dan tidak akan dapat melihat pemandangan apa-apa saat itu.Dia bilang dan kami setujui, akan lebih baik bila besok pagi-pagi sekali kami berangkat, istirahat agak lama sambil lihat-lihat di puncak, lalu turun kembali.

Maka, kami kembali ke pos dan duduk-duduk mengobrol sambil menukar pakaian yang basah. Di pos Cikaniki ini juga disediakan kamar penginapan sederhana dengan tarif Rp 60.000,- per kamar kalau saya tidak salah mengingat. Saat itu semua telah dibooking oleh orang (bukan binatang) lain. Tapi untuk tidak mengecewakan kami, petugas juga mengatakan sekitar 2 km dari pos terdapat penginapan lain yang dikelola oleh penduduk desa atau bila mau berkemah bisa dilakukan di camping ground yang letaknya bersebelahan dengan penginapan tersebut.

Penginapannya sangat sederhana, tanpa listrik berlantai kayu, berukuran kira-kira 3 x 2,5m dengan ranjang busa. Malam itu kami lewati dengan makan malam sambil kongkow-kongkow tanpa arah. Pagi-pagi sekali (jam 7 maksudnya), kami telah bangun dan memasak, bercanda, guyon, saling ejek, merokok, kongkow lagi, makan pagi, serta packing. Jam 10 selesailah sudah dan kami mulai berjalan kembali ke arah pos Cikaniki. Kali ini kami melewati jalur hutan dan tidak melalui jalan raya lagi. Setiba di pos tanpa istirahat, dilanjutkan mendaki Kendeng.

Gunung ini, sama seperti sungainya, bersih sekali tanpa sampah satu potongpun, sekali lagi satu potongpun. Bagi pembaca yang gregretan dengan sampah dan suka kebersihan, apalagi sampah masyarakat, tentu akan menyukai kebersihan gunung ini. Jalan setapaknya masih sempit dan kadang tertutup semak-semak di sisinya yang menjulur, walaupun jalannya masih tampak. Hutannya benar-benar hutan basah dan masih bersih tanpa ada papan penunjuk atau coretan apapun.

Jalannya kadang mendatar dan mendaki. Satu jam kemudian kami tiba di .. aduh lupa lagi.. tapi suatu tempat agak mendatar yang cukup lebar untuk istirahat dan mempunyai pemandangan bebas ke arah lereng. Dari sini, jalan agak mendatar cukup panjang, tampaknya merupakan punggungan bukit untuk kemudian mendaki kembali selama 2 jam untuk tiba di puncak Kendeng.

Puncak (menurut altimeter 1625m dan cocok dengan peta di tembok pos tapi lain dengan yang di peta Jabar – 1725m) hanya berupa dataran kecil bersemak seperti tampak pada foto. Dari sini masih ada jalan terusan kecil dengan semak-semak setinggi 0,75 – 1 m di kiri-kanannya yang mungkin menuju Halimun (tolong koreksi bila salah). Suhu 15 derajat celcius pada saat itu dan udara berkabut serta mendung mau hujan.

Perjalanan pulang mengambil rute yang sama dengan perjalanan naik, disertai dengan sering kali terpeleset karena jalan tanah yang basah oleh hujan dan jarangnya dahan yang dapat digunakan untuk berpegangan. Pulang ke hotel untuk mengambil mobil dengan menumpang L-300 yang memang telah dipesan untuk menjemput. Tarifnya Rp150.000,- untuk sampai di depan hotel.

ditulis oleh bang Arifin Go…

Iklan
Explore posts in the same categories: Rute Pendakian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: