BERKAWAN HUJAN, MENDAKI KINABALU

Berkawan Hujan Mendaki Kinabalu

Artikel pernah dimuat di Majalah Intisari bulan November 2003.

Siapa nyana Malaysia yang “miskin” gunung memiliki gunung tertinggi di antara bentangan Himalaya dan Jayawijaya, yakni Gunung Kinabalu dengan Low‘s Peak yang bisa didaki dengan ketinggian 4.095,2 m dari muka laut. Berikut pengalaman mendaki gunung itu.
Dari perencanaan dan perkiraan, biaya termurah untuk mendaki G. Kinabalu itu melalui perbatasan Indonesia – Malaysia. Sebab, tidak terkena biaya fiskal. Selain itu ada banyak bus yang menghubungkan kedua wilayah itu. Dari Jakarta ke Pontianak kami menggunakan pesawat udara.

Setelah mengudara 1 jam 15 menit, pesawat mendarat di Bandara Supadio. Dari sini kami menuju Kuching dengan bus pukul 21.00. Sayang, gelap menyergap sehingga kami tak bisa melihat pemandangan di luar. Tiba di perbatasan Entikong sekitar pukul 04.45. Kantor perbatasan buka pukul 05.00 WIB atau pukul 06.00 waktu Sarawak.

Bangunan pos perbatasan Entikong sangat megah, kontras dengan bangunan pos perbatasan Malaysia. Sayangnya, meski megah pos itu semrawut. Banyak calo menawarkan kemudahan mengurus paspor. Belum lagi penjual jasa penukaran uang. Lagi-lagi ini berbeda dengan keadaan di seberang sana. Kalaupun ada calo, langsung ditertibkan oleh polisi yang wibawanya dihormati.

Sebelum memulai pendakian, masih ada waktu bagi kami untuk menikmati Kuching. Suasananya sangat berbeda dengan di Indonesia pada umumnya. Tak ada pedagang asongan dan sedikit pejalan kaki. Kami merasa aneh sendiri. Terlebih masyarakat di sini pelit untuk memainkan klakson. Iseng kami menghitung. Ternyata telinga kami hanya menangkap bunyi klakson tak lebih dari jumlah jari di satu tangan. Aduh, nikmatnya …. Tak ada sampah
Untuk mencapai Kinabalu, kami masih harus ke Miri lewat jalan darat, disambung menggunakan pesawat. Enaknya hidup di zaman internet, kami bisa mengurus sebagian akomodasi dari Jakarta. Jelas sangat membantu karena mengurangi kerepotan selama di tempat tujuan.

Hanya tak semua informasi di internet tergolong baru. Kami kecele ketika pengurusan akomodasi pendakian ke G. Kinabalu tidak lagi di Kantor Sabah National Park – seperti informasi yang kami peroleh – tapi sudah diserahkan ke pihak swasta, Kinabalu Nature Resort. Tak apalah, justru hal semacam itu bisa menambah wawasan kami.

Di Kinabalu Nature Resort kami hanya melakukan booking untuk akomodasi. Izin pendakian dan pemandu dilakukan di Kantor Kinabalu Park yang terletak di jalur Kinabalu – Ranau. Di sini kami kecele lagi. Di Jakarta kami mendapat informasi, biaya izin pendakian RM 35 sudah termasuk guide (waktu itu 1 RM = Rp 2.680,-). Perlu diketahui, pendakian ke Kinabalu wajib ditemani pemandu.

Ternyata, informasi di Kantor Kinabalu sungguh di luar dugaan. Izin mendaki RM 100, belum termasuk biaya guide sebesar RM 65, yang biasanya menemani enam pendaki. “Penyakit bawaan” kambuh: merayu agar bisa memperoleh pengurangan biaya. Tapi, kami terbentur tembok disiplin pegawai Kantor Kinabalu Park. “Kami hanya pelaksana, tidak bisa memberikan kebijakan apa-apa,” kata mereka.

Untunglah, hawa dingin kantor yang berketinggian 1.558 m (sekitar 13 – 20oC) itu mampu membuat kami tidak ngotot. Toh semuanya serba menyenangkan. Petugasnya ramah dan sangat informatif. Gedung bersih dan rapi. Bahkan di tempat ini terdapat ruang pamer berisi informasi flora dan fauna di Kinabalu Park. Di akhir pekan biasanya ada pemutaran film dan penyampaian informasi seputar Kinabalu Park. Kami menginap di Medang Hostel, menimbun tenaga untuk keesokan paginya mulai mendaki ke Laban Rata.

Dari kantor inilah awal pendakian dimulai. Enaknya mendaki di Kinabalu, tidak perlu bawa banyak perlengkapan. Barang bawaan bisa dititipkan di loker Kantor Kinabalu Park. Untuk menyimpan benda berharga pun tersedia safe deposit box.

Tujuan kami adalah Laban Rata (3.353 m). Ada delapan pos perhentian dalam rute yang berjarak sekitar 5,6 km ini. Pos pertama Timpohon (1.830 m), yang bisa kami capai sekitar 10 menit. Cepat sekali! He-he-he … di jalur ini kami naik minibus. Pos ini merupakan pos pemeriksaan izin, dan pengunjung memperoleh kartu identitas yang harus selalu dikenakan. Kami dikenalkan ke pemandu, Anton namanya, penduduk asli Kinabalu. Kepadanya pengunjung bisa bertanya seputar G. Kinabalu. Syaratnya, bisa berbahasa Inggris.

Perjalanan sesungguhnya baru dimulai selepas Timpohon. Pos berikutnya, Pondok Kandis (1.981 m). Tiap pos dilengkapi sarana WC dan air bersih. Terdapat pula petunjuk ketinggian dan jarak antara pos sebelum dan sesudahnya. Kebersihannya patut diacungi jempol. Meski di setiap pos tersedia tempat sampah, pengunjung diminta membawa sampah mereka selama pendakian dan membuangnya di Kantor Kinabalu Park. Selama pendakian, kami tidak menemukan secuil pun sampah.

Salah waktu
Gerimis menyertai keberangkatan kami ke Pondok Kandis. Untung, jalur pendakian sudah dibuat teratur dari susunan batu-batuan. Pada tanjakan dibuat undakan dan pegangan tangan di kanan-kiri. Kurang dari setengah jam kami tiba di Pondok Kandis. Pos selanjutnya berturut-turut adalah Pondok Ubah (2.059 m), Pondok Lowill, Pondok Mempening (2.518 m), Pondok Layang-layang (2.621 m), Pondok Vilarosa (2.942 m), dan Pondok Pakka (3.072 m), sebelum akhirnya tiba di Laban Rata (3.353 m). Total panjangnya 8,5 km.

Kesalahan kami dan semua pendaki saat itu ialah pemilihan waktu yang kurang tepat. Mendaki Kinabalu memang disarankan sekitar Mei – Juli. Melakukannya di musim hujan seperti kami, selama perjalanan tentu ditemani hujan. Disertai angin kencang, terasa sekali dinginnya menggigit kulit. Kami sedikit terbebas dari rasa dingin tatkala berhenti di pos perhentian, tempat kami mengganti baju basah dengan jaket hangat.

Hujan membuat kami tidak leluasa mengamati alam Kinabalu. Padahal, Kinabalu penuh dengan vegetasi beragam. Di bawah 1.300 m akan kita jumpai hutan Dipterocarpaceae dataran rendah. Lalu, di sekitar Kantor Kinabalu Park bisa dijumpai pohon sarangan Castanopsis, tempat hunian sejumlah besar burung dan bajing yang jinak. Dari sini sampai Laban Rata kita disuguhi hutan lumut dan hutan Rhododendron.

Akibat lainnya, kami terlambat tiba di Laban Rata. Segera kami masuk ke restoran yang ada dan menghangatkan tubuh dengan mengganti baju. Tak lupa kami menyantap makanan. Harga makanannya sedikit lebih mahal dibandingkan dengan di Kinabalu Park. Wajar, sebab bahan baku dan bahan bakar harus diangkut ke atas oleh tenaga manusia. Selama perjalanan menuju Laban Rata, kami sering didahului pembawa barang untuk restoran, termasuk tabung gas elpiji.

Hujan sore itu akhirnya berhenti, memberi kami panorama sunset yang indah. Pemandangan romantis ini menjadi hiburan tersendiri. Rasanya, kami tidak sia-sia melawan hawa dingin di tempat berketinggian 3.500-an m itu. Padahal, restoran yang buka pukul 01.00 – 03.00 dan 12.00 – 20.00 itu sudah dilengkapi penghangat tubuh. Kami putuskan untuk menginap di Gunting Lagadan Hut, 50 m dari restoran. Sewanya tergolong murah, RM 17. Ternyata harga murah harus ditebus dengan tubuh kedinginan karena Gunting Lagadan Hut tidak dilengkapi fasilitas pemanas ruangan. Beda dengan yang ada di Laban Rata, yang ongkosnya antara RM 34 dan RM 230.

Beberapa teman mengalami pusing kepala dan mual karena perbedaan ketinggian dan kondisi badan yang kurang fit. Anehnya, meski bukan waktu terbaik, semua kamar di Gunting Lagadan Hut penuh. Lagi pula saat itu bukan akhir pekan. Memang, ada beberapa yang hanya sampai di Laban Rata dan esoknya istirahat untuk menikmati pemandangan sampai waktu check out pukul 10.30. Anton si pemandu berpesan, ia akan menjemput pukul 02.00 untuk bersiap-siap melakukan pendakian ke puncak.

Sunrise di puncak
Pukul 01.00 kami bangun. Waktu mau menyiapkan makan, kami terkejut, air tidak keluar. Baru kami sadar dan maklum, karena sewanya tergolong murah. Terpaksa kami mengisi perut dengan cokelat dan roti dan menenggak minuman kaleng.

Pukul 02.55 kami mulai mendaki. Kaus kaki terpaksa dibungkus plastik, karena sepatu yang basah oleh hujan kemarin. Di awal pendakian kami masih melewati jalan berbatu dan akar-akar pohon sebagai pijakan dan pegangan. Cukup lama perjalanan itu karena ada teman yang masih mual sampai muntah dan sakit kepala. Terpaksa harus beristirahat dulu, sebelum melanjutkan perjalanan.

Medan kini berganti dengan gugusan granit. Inilah yang membuat khas Kinabalu. Puncaknya terselimuti batu-batu granit berbentuk gerigi. Tumbuhan sudah tidak ada sehingga orang tidak bisa berlindung dari terpaan angin. Mulai dari kaki batu granit hingga ke puncak jalur pendakian diamankan dengan tali. Setiap orang harus mendaki dan turun melalui tali itu, sehingga pada beberapa bagian terjadi antrean mereka yang akan menggunakan tali.

Di pos terakhir sebelum puncak, yakni Sayat-Sayat Hut (3.810 m), dilakukan pemeriksaan izin pendakian lagi. Perlu waktu 2 jam bagi kami untuk sampai di tempat ini. Sayat-sayat Hut bisa dijadikan tempat menginap, tapi kapasitasnya terbatas. Juga tak ada jaringan listrik. Peralatan memasak dan kamar mandi saja fasilitasnya. Maklum, ongkos sewanya sama dengan di Gunting Lagadan Hut.

Perjalanan selanjutnya masih dikawani gerimis dan kabut. Kami mencoba terus berjalan untuk melawan dingin. Batu granit bertambah licin akibat siraman hujan. Harus ekstra hati-hati kalau tidak ingin terpeleset. Dengan sisa-sisa tenaga akhirnya sampai juga di Lowís Peak (4.101 m). Rupanya, anugerah menyusul usaha kami.

Tatkala sunrise, awan sempat tersibak sehingga pemandangan elok di sekeliling G. Kinabalu bisa kami nikmati. Saat-saat seperti itu, hanya kekaguman yang terlontar. Tuhan Mahabesar. Tak lama awan terkuak. Mendung segera membekapnya dan memasung Matahari di pelukannya. Kami segera turun, kala gerimis mulai menyentuh puncak Kinabalu. Sesampai di Gunting Lagadan Hut kami makan pagi dulu dan istirahat sambil menikmati pemandangan. Saat check out pukul 10.00, penginapan itu sudah sepi. Gerimis masih setia menemani, bahkan terkadang ditimpa hujan lebat. Kami baru terpikir, mengapa kami lupa membawa jas hujan?

Ah, tak ada guna pertanyaan itu saat kami sudah menjejak Kinabalu Park lagi.

Explore posts in the same categories: Dan Lain - Lain

8 Komentar pada “BERKAWAN HUJAN, MENDAKI KINABALU”

  1. Boe Says:

    pengen nih, mungkin taun dpn aq mo kel indonesia, mo ikut ? Yuuuuuuuuuuuk

  2. catros Says:

    mo ke mana Boe ?


  3. kayak piknik begitu engga bisa disebut mendaki,coy!!!!!!!!!!! ngapain kesana, nazis buang duit buat org Malaysia si tukang caplok wilyah negara org.

  4. isack Says:

    Nice story…
    Saya juga tertarik pengen nyoba mampir ke kinabalu. Saya berencana kesana bulan agustus-september 2009. Mas bisa bantu saya nyari informasi lengkap tentang kinabalu? persiapan, akomodasi dan perijinan (luar negri), transportasi dll tentunya dengan settingan hemat ala backpacker. Makasih Mas.

  5. Kirania bety Says:

    bisa bantu saya untuk booking naik gunung kinabalu yang paling murah untuk 2 hari 1 malam..
    saya berencana tgl 18 juni 2012 akan naik kekinabalu..
    tolong infokan secepatnya.. terima kasih

  6. Wira Says:

    kATANYA TENTANG SOE KOK GAK ADA SANGKUT PAUTNYA SIH . . .:/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: