Tanpa Anus, Menaklukan Tujuh Puncak

Menderita penyakit stoma dan mengharuskannya memakai kantung sebagai pengganti anus, tidak membuat Robert (Rob) Hill gentar untuk melakukan pendakian di tujuh gunung tinggi di dunia. Rencananya, Minggu (15/4), ia medaki gunung ke-6 nya yaitu puncak Cartenz di Papua.

rob.jpeg
Sebagai seorang ostomate, Rob menggunakan kantung ostomy untuk menampung kotoran yang keluar dari tubuhnya. Pendakian tujuh puncak (seven summits) yang dilakukannya pastilah sebuah tantangan besar, apalagi dengan gangguan penyakit usus besar yang fungsi utamanya untuk menyerap nutrisi dan air bagi tubuh. Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, kurang dari 100 orang yang mampu melakukan pendakian tujuh puncak.
“Saya menyadari bahwa sebagai seorang ostomi, kami sering merasa sangat dibatasi, baik secara fisik maupun emosional. Dengan pendakian yang saya lakukan, saya ingin menunjukkan pada pasien lain masih banyak yang bisa dilakukan,” ujarnya saat jumpa pers di Jakarta (12/4).
Rob memulai kampanye “No Guts-Know Glory” (tanpa usus meraih kejayaan), sejak tahun 2002. Lima gunung dari target tujuh gunung yang sudah didakinya antara lain, Gunung Elbrus (5,633 m) di Rusia, Kilimanjaro (5,963 m) di Tanzania, Aconcagua (6,962 m) di Argentina, McKinley (5,895 m) di Alaska, dan Vinson Massif (4,897 m ) di Antartika. Setelah mendaki Cartensz Pyramid (4,884 m) April ini, gunung terakhir yang menjadi obesesinya adalah Gunung Everest (8,850 m) di perbatasan Nepal dan Tibet.
Pendakian Rob di Carstenz ini boleh jadi merupakan pendakian tersulit baginya. Selain karena tingkat kesulitannya yang tinggi, juga stabilitas keamanan dan politik di daerah tersebut. Carstensz merupakan gunung dengan dinding granit yang curam dan tajam. Rob sendiri akan memilihi jalur Ilaga. Untuk mencapai tujuannya, Rob mempersiapkan diri untuk pendakian dalam kondisi cuaca bersalju atau hujan.
“Mendaki gunung bukan hal baru bagi saya, sejak kecil kedua orangtua saya sering mengajak saya mendaki. Bahkan ketika mendaki gunung Kilimanjaro saya melakukannya bersama kedua orangtua. Ibu saya orang yang tangguh,” ucap Rob.
Melalui ekspedisi yang dilakukannya, Rob ingin menyampaikan pesan kepada semua penderita penyakit usus untuk menjalani hidup mereka dengan penuh makna dan harapan selayaknya manusia normal. Ekspedisi tujuh puncak tersebut disponsori oleh perusaah ConvaTec, sebuah produsen alat kesehatan bagi penyandang stoma dan pasien penderita luka pada tubuh.

Iklan
Explore posts in the same categories: Dan Lain - Lain

2 Komentar pada “Tanpa Anus, Menaklukan Tujuh Puncak”

  1. mada Says:

    Kita bisa belajar dari Robert (rob) hill . Bahwa, dengan tekad dan semangat yang kuat segala tantangan akan mudah tuk di jalani.


  2. […] « Tanpa Anus, Menaklukan Tujuh Puncak […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: