Penyakit2 kegiatan Outdoor – 01

Ada beberapa gejala / penyakit yg kerap melanda para penggiat alam maupun para penggiat kegiatan outdoor, disini saya coba untuk menjelaskan beberapa diantaranya :

HIGH ALTITUDE
Di ketinggian kita akan mengalami penurunan tekanan barometrik (tekanan udara). Oksigen menyumbang sekitar 21 % terhadap tekanan ini, artinya semakin kita naik maka semakin sedikit oksigen yang didapat. Ini penyebab utama masalah seperti hypoxia. Tapi dengan naik secara perlahan-lahan, tubuh kita bisa menyesuaikan dengan tipisnya
udara, istilahnya adalah ‘aklimatisasi’.
Perubahan fisiologis dalam respirasi, sirkulasi, darah dan lapisan tubuh meningkatkan pengiriman oksigen dalam tubuh sehingga tubuh lebih mampu mengatasi masalah kurangnya oksigen. Aklimatisasi sendiri tergantung kepada kecepatan mendaki, tingkat stress dan fisiologis individual.
Kemampuan individu beraklimatisasi berbeda-beda, ada yang cepat menyesuaikan diri, ada yg lama, bahkan ada yang tidak bisa sama sekali. Orang yang biasa tinggal di ketinggian cenderung lebih mudah beraklimatisasi, contohnya para sherpa di Himalaya.
RESPIRATORY CHANGES
Saat naik, kecepatan bernafas kita akan bertambah pula. Ini bisa dimulai sejak ketinggian 1500M. Istilahnya adalah Hypoxic Ventilatory Response (HVR). HVR bervariasi dalam tiap orang dan dipengaruhi oleh stimulan (misalnya kafein dan coca), serta depresan (misalnya alkohol dan antihistamin). Kebugaran fisik tampak tidak berpengaruh terhadap
HVR. Tingkat HVR yang baik akan meningkatkan aklimatisasi, HVR yang jelek akan memudahkan terkena penyakit ketinggian.
Karena kecepatan nafas bertambah, semakin banyak oksigen yang dihirup. Tapi kita juga akan semakin banyak mengeluarkan karbon dioksida sehingga terjadi perubahan kimiawi dalam tubuh. Dalam waktu 24 sampai 48 jam, ginjal berusaha menyelaraskan dengan perubahan kimiawi tersebut dengan mengeluarkan bikarbonat (artinya kita akan
semakin banyak buang air kecil selama aklimatisasi). Proses ini bisa dipercepat kalau memakan obat bernama Acetazolimide/Diamox.

CIRCULATORY CHANGES
Ketinggian akan membuat tubuh stress. Sebagai respon, hormon stress akan dilepaskan ke dalam darah. Akibatnya muncul peningkatan ringan pada tekanan darah dan detak jantung. Semakin lama di ketinggian, detak jantung kembali ke tingkat normal. Tapi detak jantung maksimum tetap akan menurun.
Volume plasma darah juga menurun karena banyaknya kita buang air kecil. Penurunan ini bisa mencapai angka 15 % dalam tiga hari pertama aklimatisasi. Jadi sangat penting untuk minum banyak air sehingga tidak terjadi dehidrasi.
Pulmonary vessel juga akan menyempit selama berada di ketinggian. Dampaknya terjadi tekanan pada arteri pulmonary dan menjadi satu faktor timbulnya penyakit pulmonary edema (cairan bocor ke paru-paru).

Explore posts in the same categories: Dan Lain - Lain, Hiking

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: