CATPER Gn. Dempo

Ini catper ke Dempo kemarin. Mungkin bermanfaat buat yg mao ke sana atau yg ingin mengulang naik tanjakan top itu..
——

PEKAN lalu sebenernya sy sudah merencanakan ikut teman2 ke Gunung Slamet via jalur Kaliwadas. Tapi Minggu malam (12/8) teman sy Ariq yg tahun lalu bareng ke Slamet meng-SMS dan mengajak ke Gunung Dempo.
Pikir punya pikir, terus karena belom pernah ke Dempo, ya sudah saya putar haluan dari Jawa Tengah ke Sumatera Selatan.
Urus sana-sini, packing kilat, pesan tiket dilakukan serba cepat.

Selasa (14/8) naik Lion Air sendirian di malam hari karena Ariq sudah berangkat lebih dulu. Jam 21.30 sudah tiba di bandara Sultan Mahmud di Palembang. Bingung juga karena belom pernah ke sini. Tujuan adalah kampus Universitas Muhammadiyah Palembang di Plaju, tempat Ariq
menginap di ruang sekret penggiat alam Gema Persada Lh Fak Pertanian.
Akhirnya pilih taksi yang pake mobil Mitsubishi Kuda. Jarak bandara ke Plaju ternyata jauh juga, sekitar setengah jam dengan ongkos 63ribu.
Di sini disambut teman2 Gema seperti sahabat. Kelak sy malu juga karena selama menginap di sini selalu dijamu dan ditraktir melulu. Jadi gak enak nih hehe. Belum apa-apa malam itu udah dikasih sate ayam gratis.

Rabu (15/8)
Pagi itu diisi istirahat sementara teman2 Gema pergi membeli tiket bis Telaga Biru Putra jurusan Palembang-Pagaralam (35ribu/orang). Yang akan berangkat ada 4 yaitu 2 teman dari Gema (Hendri dan Untung) sebagai guide lalu Ariq dan sy. Menjelang jam 3 sore pergi dari kampus menuju terminal baru Karya Jaya di Palembang. Di sini kami ketemu 4
pendaki lain dari kelompok penggiat alam Mapala Dolphin STMIK IGM Palembang. Meski beda jam keberangkatan, kelak mereka akan bareng dengan kami di gunung.
Jam 3.30 bis seukuran Kopaja itu berangkat. Jarak Palembang ke Pagaralam sekitar 295km dan ditempuh rata-rata 7 jam. Jam 9 malam sampai juga di Pagaralam, dan terus kami diantar oleh bis itu ke rumah pak Antoni Umar. Pria yang biasa dipanggil ayah ini boleh dibilang kuncennya gunung Dempo. Tiap pendaki biasanya mendaftar ke sini sekaligus menginap karena pak Anton sudah membangun satu bedeng di belakang rumahnya untuk dipakai para pendaki secara cuma-cuma.
Hendri dan Untung sudah lama kenal dengan bapak ini jadi mereka langsung akrab. Hingga jam 12 malam kami masih mengobrol tentang dunia pendakian dengan pak Anton. Tapi mata sudah 5 watt dan akhirnya obrolan diakhiri untuk tidur. Belum tidur, datang juga 4 teman dari Dolphin tadi Jadilah ruang bedeng itu diisi 8 orang.

Kamis 16/8
Dari rumah pak Anton yang ada di kompleks perkebunan teh PTPN VII itu, pendaki masih harus mencapai desa berikutnya yaitu Kampung II dan Kampung IV sebelum akhirnya tiba di pintu rimba. Masalahnya, jalan ke kampung cukup jauh. Biasanya pendaki naik truk angkutan teh yang menuju kampung dengan membayar rp10ribu/orang. Subuh itu sayangnya kami ketinggalan truk yg sudah berangkat kurang dari jam 5 pagi.
Untungnya dekat situ ada yg menyewakan mobil colt. Jadilah dengan membayar rp5 ribu/orang kami naik mobil. Meski cuma sampai persimpangan kampung II tetap lumayan, daripada harus jalan kaki yang bisa sampai 7 jam.
Sampai di dekat kampung II, kami turun lalu jalan mengikuti jalur berbatu-batu. Dari sini masih jauh ke kampung IV, jadi kami potong jalur menerobos kebun teh. Tapi kok ya lama-lama makin melambung ke kanan. Ada kali 1 jam jalan sebelum akhirnya memutuskan turun lagi.
Kebetulan langsung ketemu jalan batu lagi dan ternyata sudah dekat kampung IV. Sekitar jam 9 lewat kami sampai di desa Mekarjaya alias kampung IV.
Di sini makan mi instan sebagai sarapan lalu membeli perbekalan di warung. Jam 10 mulai jalan lagi mengikuti jalan berbatu. Tak lama ketemu sungai kecil bernama Sungai Ulo dengan sebuah pos kecil di sampingnya. Istirahat agak lama di sini, ada juga yang sengaja pergi ke hulu sungai untuk melihat air terjun kecil.
Jalan lagi. Sekitar 3 belokan, ada jalur menanjak ke atas menuju pintu rimba. Patokannya, ada sebuah pohon yang hangus dengan plang kayu penunjuk arah di situ. Jalan sekitar 15 menit melalui jalur tanah sampai akhirnya tiba di pintu rimba. Di sini ada plang kayu bertulis Pintu Rimba.
Jam 12.10 kami mulai menerobos pintu rimba. Dari sini jalur langsung menanjak. Jalannya dari tanah cadas yang licin. Di beberapa tempat jalurnya sempit sekali. Mendekati shelter 1, mulai deh harus memanjat akar-akar pohon agar bisa melalui tanjakan terjal itu. Jam 13.20 kami ber-8 tiba di Shelter 1. Lokasinya agak terbuka, dengan mata air beberapa meter ke sebelah kanan jalur naik. Istirahat dan bikin kopi.
Sekitar 30 menit istirahat santai, kembali jalan. Jalur makin terjal.
Terkadang harus meniti batang pohon roboh. Lagi-lagi tanjakan akar. Sekitar 1 jam jalan ketemu yang disebut Dinding Lemari. Ini satu tanjakan setinggi kira-kira 5 meter Kita harus meniti jalan sempit yang licin untuk sampai di atasnya.
Lewat Dinding Lemari, tanjakan sudah menyambut lagi. Di sini kaki, tangan, dengkul dan otak main semua supaya bisa melewati tanjakan. Kaki bertumpu ke akar paling bawah, tangan meraih akar paling atas, dengkul jadi tumpuan ke tanah lalu otak berputar keras supaya bisa naik tanpa risiko.
Akhirnya jam 16.20 sampai di Shelter 2. Lokasinya lebih luas daripada shelter 1 tapi tertutup pohon. Mata air ada di bawah sebelah kanan jalur naik. Karena cuaca mulai berkabut, kami putuskan buka tenda di sini. Oh ya, sejak shelter 1 rombongan bertambah dengan kehadiran Udin dari Kudus dan temannya Rizal dari Palembang. Jadi kami semua
bersepuluh orang. Udin-Rizal memutuskan tetap jalan, sedangkan kami tetap ngecamp di Shelter 2.
Dua tenda dibangun berhadapan, flysheet ukuran 3×3 meter yg sy bawa lalu dibentangkan di antara keduanya. Hari makin gelap. Menu malam itu nasi, mi goreng, bakwan diakhiri minuman teh manis dan kopi. Jam 21 lebih, makan selesai, kami masuk tenda dan mencoba istirahat.

Jumat 17/8
Pagi bangun, udara masih dingin. Sejumlah pendaki yang start malam hari datang melintasi tenda kami. Saling sapa menyapa dengan ucapan khas sana, “Nak ke pucuk?” (mau ke puncak?). Tak lupa saling genggam tangan khas pendaki. Saling bersahabat sesama orang yang suka ke gunung.
Setelah sarapan mi rebus, kami jalan lagi sekitar jam 9 pagi. Gak berapa lama ketemu Udin cs yang buka camp darurat di sisi kiri. Semula mereka mau langsung ke puncak tapi karena gerimis akhirnya berhenti.

Dari sini jalur cukup terjal, melintasi kawasan Cadas yaitu daerah terbuka dengan jalur dari batu cadas. Di sini ada makam pak Mulyono, kuncen terdahulu di Dempo. Adanya di sisi kiri jalur tapi sy gak melihatnya karena lokasinya agak menjorok ke dalam semak.
Nafas tersengal-sengal, mata terus menatap tanjakan di depan, berharap segera puncak. Tapi kok ya terus tanjakan kiri-kanan. Setelah melalui tanjakan akar di atas kepala, akhirnya alhamdulillah jam 11an tiba juga di puncak Dempo.
Puncak ini tertutup oleh pohon, jadi mirip gunung Pangrango. Banyak plang kayu di sini bertuliskan “top Dempo 3159mdpl”. Sebetulnya, setelah baca buletin Wanadri, lokasi ini berketinggian 3062mdpl. Entah siapa yang memulai kesalahan penulisan plang itu. Tapi biarlah, yang penting kami sudah sampai dengan selamat.
Satu persatu rombongan tiba. Tak lama di sini, kami mengikuti jalur turun menuju ke alun-alun Pelataran. Ini sebuah padang rumput agak luas tapi tanpa pohon edelweiss. Yang banyak di sini adalah tanaman khas yang disebut kayu Panjang Umur. Sudah banyak orang ngecamp di Pelataran. Kami sendiri membangun 3 tenda di satu lokasi yang cukup terlindungi oleh pohon.
Sekitar jam 2 siang kami pergi ke puncak Merapi yang letaknya dipisahkan dari top Dempo oleh Pelataran. Sekitar 20 menit sudah tiba di puncak. Bagusnya di sini ada sebuah kawah dengan airnya yang kehijauan. Kalau jalan terus ke kanan akan bertemu sekumpulan batu yang disusun rapih. Ceritanya ini lokasi makam para pendekar tempo
dulu. Puncak Merapi ini yang berketinggian 3159 mdpl.
Turun lagi ke camp dan menyiapkan makan malam. Menunya nasi, mi rebus,
bakwan, ikan asin dan lainnya. Pokoknya enak buanget.

Sabtu 18/8
Cuaca cerah menyambut hari ini. Kami mulai membongkar tenda dan tak lama meninggalkan Pelataran kembali ke puncak Dempo. Tiba di atas jam 9.20 lalu segera turun. Lagi-lagi masalah di tanjakan akar. Kali ini cukup repot mencari cara turunnya. Dalam 1 jam sudah sampai di shelter 2, istirahat bentar, lalu terus ke shelter 1. Tiba di shelter 1 jam 1145 lalu istirahat agak lama di sini.
Jalan lagi dan akhirnya tepat jam 2 siang kami sudah tiba lagi di Pintu Rimba. Dengan kondisi baju dan celana kotor oleh tanah, kami jalan ke pos Sungai Ulo untuk bersih-bersih. Sementara itu, teman lain jalan dulu ke kampung IV untuk mencari mobil sewaan yang akan membawa ke rumah pak Anton.
Ketemu juga mobilnya dengan ongkos 15ribu/orang. Gak papalah daripada jalan kaki ke bawah. Jam 16 tibalah di rumah pak Anton. Istirahat dan bersiap kembali ke Palembang.
Selesai juga pendakian Gunung Dempo yang melelahkan. Katanya, kalausudah minum air gunung ini, bakal balik ke sana. Siapa tahu ?
========Tulisan dibuat oleh Sembalun
Member Kaskus OANC

Explore posts in the same categories: Dan Lain - Lain, Hiking

9 Komentar pada “CATPER Gn. Dempo”

  1. bdarma Says:

    mao nambahin
    kalo dari cerita2 di situ sih
    konon kalau naik rombongan dan ada ceweknya, sebaiknya jangan yg lagi halangan alias datang bulan
    katanya, lagi2 katanya, bisa2 ada rintangan dalam mendaki
    atau kalau masih mau tetap naik, cewek yg sedang halangan itu harus jalan di tengah rombongan, jadi ada yg ngawal di depan dan dibelakangnya

    sembalun

  2. rully @btm Says:

    jadi inget lagi masa2 12 tahun lalu,waktu itu gunung dempo masih asri,dulu paling ada sampai kampung 2 saja,villanya masih satu,ke pintu rimba masih jauh lagi.Tp dengar2 dari cerita teman2 yang laen skrg ke sana enak ada mobil lagi,jalan dah mulus, kl dulu ampun susahnya, pintu rimbanya sepertinya semakin naik keatas ya?Tp Dempo memmang ok punya…..

  3. crypton_04@yahoo.com Says:

    Salam untuk pak Antoni, aku naik dah 15 tahun yg lalu, pas di puncak ada 3 pendekar yg sedang mencari ilmu… jadi kangen mau naik gunung Dempo lagi…

  4. Anto Basit Says:

    inget nostalgia…. saya sempat naik gunung dempo tahun 1998…. salam buat temen pencinta alam… mapala di palembang…. wigwam (dulu ada kusmiran/ujang), brimpals, lain2… dulu temen di ekonomi muhmadyah ketua nya edy… terus temen akrab saya… Febri yahya dan saminang… juga ada lowek.. dari bina darma… sekarang udah pada lulus … jadi kangen… salam utk Kang Wamin sama pak Anton….

    Anto Basit – crenzts@yahoo.com (kalo ada temen2 seangkatan yang mau kontak)

  5. malong Says:

    Di puncak Dempo suhunya kira2 brp derajat ya?

  6. pian Says:

    bang foto2 yang lain masih ada nggak

  7. agus Says:

    halo smuanya.salam kenal bwat para ranger.gw mau mnta info tentang pendakian gn dempo..kira2cuacanya.budget.jalur trnsport all deh yg mndukng.thxs

  8. donni/nieto Says:

    salam to pak anton saya pernah k dempo sekitar 6 tahun lalu 4 orang dari UMP Dan Unsri Poltek Suasana Dempo sampi saat ini tak terlupakan ketika teman dari Cikara Buana tewas di bukit serelo setalh mendaki pencak dempo

  9. aka Says:

    mau naik dempo tapi tak ada teman, mungkin ada saran teman” dari palembang jika saya akan melakukan pendakian sorang diri


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: