(CATPER) Pendakian Triple S, 15-21 Maret 2008

Tujuan : Triple S

Waktu : 15-21 Maret 2008

Peserta :

  • buluk imoet (anggota milis #pendaki dan forum kaskus – oanc
  • mahe (anggota milis #pendaki)
  • faisal a.k.a eiger (anggota forum kaskus – oanc)
  • kopral jono (anggota forum kaskus – oanc)


::PERMULAAN::

Pagi itu gw baru tiba di kantor, ketika tett…tett..motorola butut gw berbunyi, ada sms dari seorg kawan di Malang, faisal a.k.a eiger.

“Luk, lo ktnya mo triple s ya? Gw ikut donk..”.

“Iya, ama kopral jono dan mahe. Kl lo mo ikut, tar qta ketemuan di terminal purwokerto aja ya, jam 9 pagi”

Akhirnya perjalanan ini dimulai dgn 4 org peserta setelah sebelumnya Kopral Jono sudah menyatakan diri utk ikut.

Malam itu hampir jam 11 malam di terminal kp.rambutan, 3 org culun bergerak dgn keril segede batu menhir di punggungnya masing2. Setelah sedikit berargumen dgn calo2 terminal, akhirnya disepakati harga 31rb utk sampai di purwokerto menggunakan bis ekonomi sinar jaya. Sudah hampir jam setengah 12, bis blm jalan juga…”wah, kasihan si eiger neh kl qta telat berangkat dari sini”. Gw tanya mas2 di sebelah kiri gw

“Mas, udah lama nunggu?”.

“Wah, udah hampir 1 jam neh, bete juga ga jalan2…nunggu apa lagi sih bis dah penuh gini” jwbnya dgn sengit.

Krn penasaran, gw tanya seorg bapak yg kira2 berumur hampir 60 thn yg sedang menikmati rokok kreteknya “Pak, udah nunggu dari jam berapa?”

Dengan santainya dia menjawab “Mmmhh..jam 4 sore, dik..”

*gubrakkk..!>_<

Akhirnya mendekati tengah malam, bis mulai bergerak meninggalkan terminal kp.rambutan dan tiba di purwokerto sekitar jam 9. Eiger sudah dari jam setengah 8 sms gw, mengabarkan kl dia sdh tiba di terminal purwokerto. Setelah hahahihi dan bakar2 duit (baca:ngudut), kami melanjutkan perjalanan ke base camp gn.sumbing di desa garung dgn menumpang bis jurusan semarang dan turun di desa garung (ongkos 20rb).

Kami tiba di gapura desa garung kira2 jam 1 siang setelah sempat kebablasan ke gapura desa kledung. Waktu itu hujan…jalan becyek, ga ada ojyek..

::PENDAKIAN GN.SUMBING:: (Episode puncak yg sempat tertunda)

Basecamp gn.sumbing sekaligus rmh kepala dusun adalah basecamp pendakian terbaik yg pernah gw sambangi. Mas Yas yg ramah, tempat istirahatnya luas dan nyaman, kamar mandinya bersih, pokoknya bikin betah dah.

Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, pendakian triple s kami mulai dengan menapaki terjalnya jalur menuju puncak gn.sumbing, jam 4.15 sore itu. Jalan menanjak berupa tanah merah berpasir menjadi jalur pembuka, kira2 jam 18.30 kami tiba di pos 1 (Kledung). Mendung makin menggelayut dan udara makin dingin menusuk, jam 7 kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2 (Gatakan). Kami tiba di pos 2 sekitar jam 8 malam sekaligus makan nasi bungkus yg sdh kami siapkan sore tadi.

In da Morning

Persediaan air kami tinggal 1 jerigen kecil krn sesuai Informasi yg kami dapat, di pos 2 itu ada sumber air yg bisa kami gunakan. Memang kami mendengar suara aliran sungai di bawah sana. Kemudian gw ma mahe mencoba mendekat ke sumber air itu. Jalurnya licin dan terjal, dgn kondisi gelap spt itu kami tidak berani turun ke sungai krn khawatir terpeleset dan jatuh. Akhirnya gw putuskan utk jgn mengambil resiko dan memutuskan tidak mengambil air itu. Setelah itu, perjalanan kami lanjutkan, jam 9.30 kami tiba di pos Krendegan, sebuah pos dgn shelter, kami putuskan utk mendirikan tenda disini.

Pagi hari, sinar mentari menerobos diantara daun2an menerpa shelter tempat tenda kami berdiri…setelah gw berpikir, terlalu beresiko meneruskan perjalanan dgn hanya berbekal 1 jerigen air saja. Kemudian gw ma mahe memutuskan utk balik ke pos 2 utk mengambil air yg semalam gagal kami dptkan. Benar saja, jalur utk mengambil air itu sgt curam dan berbahaya.., untung saja malam itu kami tidak memaksakan diri utk turun. Akhirnya kami ‘membuka’ jalur lain menuju sungai itu. Setelah bersusah payah, kami berhasil mengisi jerigen besar kami dan bbrp botol yg kami bawa dgn air yg suegerrr.. .

Jam 9:30 kami bergerak meninggalkan pos Gatakan menuju pos Pasar Setan (Pestan). Pos ini merupakan sebuah tempat terbuka yg rawan akan badai dan angin kencang. Setelah melewati sebuah prasasti In Memoriam seorang teman bernama Tri Antono, kami tiba di pos pestan sekitar pukul 11.30.

Hanya kami berempat disana, tidak ada org lain. Dari cerita yg kami dengar, di gn.sumbing masih rawan pencurian perlengkapan pendakian. Kami sempat bimbang krn akan sangat beresiko utk membawa keril sampai di puncak dan lagipula kami hrs menjaga stamina agar utk pendakian gn.sindoro dan gn.slamet. Setelah bertukar pikiran dan cairan..eh, ga ding , akhirnya kami putuskan utk menyembunyikan keril kami di semak2 dan menutupinya dgn terpal dan rumput2.

Ngumpetin Keril

Jam 12 kami mulai perjalanan kami menuju puncak, jalur tanah merah berpasir yg menanjak segera menyambut kami, 1 jam kemudian kami tiba di pos Ps.Watu. Cuaca yg berubah dgn cepat, hari yg tadinya panas berubah menjadi mendung dan berkabut tebal. Setelah istirahat sebentar, kembali kami melangkah lewat jalur kiri yg agak menurun melewati jalur batu yg cukup curam dgn jurang di sisi kirinya. Kami terus melangkah ketika kabut makin tebal menutupi langkah dan pandangan kami.

Baru kira2 30 mnt kami berjalan ketika langkah kami terhenti akibat hujan deras dan angin kencang menekuk kami berempat disebuah ceruk.

Angin dan hujan semakin deras seakan mencambuki tubuh kami…

Trek

Tiba2 air hujan berubah menjadi butiran2 es sebesar jagung yg membuat kami terkesima.. My God.., hujan es!! Gw ga bs berkata apa2, gw pnya feeling bahwa ini peringatan dariNya bahwa kami blm blh menjejak puncak hari ini, sementara badai ini makin keras menghempas tubuh kami. Kemudian gw putuskan bahwa kami hrs kembali ke pos pestan. Seorang teman sempat protes dgn keputusan gw ini.

“Bro, tanggung nih udah sampe sini, kita lanjut aja ke puncak!”

“Ga bisa bro, ini nyawa taruhannya! Kita ga tau brp lama wkt kita sampe di puncak dan lagi kita ga bawa makanan yg cukup. Kl misalnya kita sampe puncak jam 5, kita turun pasti dah malam, dan kita ga bawa cukup makanan. Belum lg dgn kondisi hujan ky gini. Besok pagi aja kita balik lagi, msh ada waktu!” Akhirnya kami hrs menekan hasrat kami hari itu utk mencapai puncak, kami hrs mundur sejenak krn sptnya puncak gn.sumbing blm ingin kami sambangi.

Bermalam di pos pestan, setelah menyembunyikan keril kami di semak2, kami melanjutkan rencana summit attack kami jam 8 pagi itu, cuaca sangat cerah. Jam 10.15 kami tiba di pos watu kotak, kabut mulai menyelimuti kami dgn sangat cepat. Jarak pandang ketika kabut tebal turun mngkin hanya berjarak 10 m, jalur yg cukup jelas membuat kami dapat mencapai puncak jam 11.45. Kabut membuat pemandangan di puncak tidak cukup bagus, tidak terlihat gn.sindoro dan gn.slamet, hanya kawah dan tebing2 sumbing yg dgn gagah menyambut kami. Thanks God.. .

Ini orang lg ngapain yah ?

Setelah foto2 narsis dan menikmati happy drink, kami segera turun dari puncak krn khawatir akan turun hujan. Jam 2 siang kami tiba kembali di pos pestan.

Seorang rekan kami sempat meminta utk stay semalam lagi di pestan krn kondisinya amat lelah.

“Terserah lo deh kl mo turun, gw di sini aja..capek bgt gw”

“Ga bisa bro, ini pendakian triple s, bukan cuma gn.sumbing doank, kl

kita ngecamp semalam lg wktnya ga bakal cukup utk ke sindoro ma slamet. Mending lo makan dulu deh, dah gw siapin makanan buat lo”.

Segera nasi plus teri kacang, indomie, nata decoco, teh panas, kopi, dan air putih meluncur dgn cepat melewati kerongkongan teman kami itu. Wajahnya berangsur2 berubah, dah mulai bisa nyengir dia… . Kodok!

lo kl laper emang jelek bener bawaannya..

Jam 4 kami mulai turun, cuaca mulai mendung dan menjelang magrib hujan turun dgn lebatnya. Jalan menjadi makin licin dan langkah kami menjadi lebih lambat. Jam 7.30 kami tiba di ds.Garung. Seorg bapak menyambut kami dan mempersilahkan kami masuk ke rumahnya yg amat sederhana. Teh tawar menjadi sajian pembuka utk menghangatkan tubuh kami, dan sebuah seguhan yg samasekali baru terhidang di depan kami… nasi jagung!

Ya..nasi jagung. Dgn tumis kol dan sambel yg super peudes membuat kepala dan tubuh kami langsung keringetan…wuihhh..mantapss puedessnya…hua..hua… )

Jam 9 kami tiba kembali di base camp. Setelah beres2, kami kembali terlelap dalam nyamannya ranjang kayu di base camp gn.sumbing.

::PENDAKIAN GN.SINDORO:: (Episode: nyasar)

“Luk, dengkul gw kynya kena neh.., gw mo ke tukang urut dulu ya?” kata Jono pagi itu sambil megangin dengkulnya.

“Kenapa lo? Waduh.., kl dengkul lo cedera bahaya tuh, tar lo kaga bisa mikir…hahahaha” jawab gw sekenanya.

Sejak malam kmrn Jono memang sudah terpincang-pincang, mngkin ada otot dengkulnya yg terkilir. Akhirnya setelah diurut ama tukang urut lokal.

Jono tetap ga bisa melanjutkan pendakian ke Gn.Sindoro (jangan2 lo urut ke mak erot Jon..?), pendakianpun terpaksa kami lanjutkan tanpa Jono, hanya gw, mahe, dan eiger saja. Jono sempat mengantar kami sampai basecamp Gn.Sindoro seblm akhirnya pergi ke rmh mbahnya di semarang.

Jam 10 pagi yg cerah, setelah sarapan dan bungkus nasi utk makan siang, kami melanjutkan perjalanan melewati ladang penduduk yg baru saja ditanami tambakau dan panen kol, aroma dan suasana khas pedesaan segera menyambut kami. Sayangnya suasana itu dirusak oleh ulah Mahe yg dgn semena2 “ngebom” di saluran air…”sori bro, udah kaga tahan nih..” gt kata mahe dgn memelas. Watta mahe!:>_<.

Jam 1 siang kami tiba di Pos 2, disini kami makan siang dgn kondisi cuaca yg mulai mendung dan berkabut. Hampir 1 jam kami di pos 2, seblm kemudian kami beranjak melewati semak belukar dan trek yg cukup licin utk tiba di suatu tempat seblm ladang edelweis. Di depan kami tepat gunung sumbing dan pemandangan kota di bawahnya, dgn tebing kecil di belakang sbg tempat perlindungan dari angin benar2 sebuah tmpat yg ideal utk mendirikan tenda. Kebetulan hari itu hujan tidak turun, malamnya kami sempatkan utk menikmati bintang dan pemandangan lampu2 kota di kaki gunung sumbing. Watta beautiful place!.

Jam 4.30 kami bangun. Seperti sdh disepakati seblmnya, kami akan meninggalkan tenda kami apapun resikonya, krn sangat berat kl hrs membawa semua perlengkapan kami sampai ke puncak. Trek berbatu yg terjal menghantar langkah2 kami semakin dekat ke puncak. Gw dan mahe jalan duluan sementara eiger tertingggal cukup jauh di belakang. Tiba di sebuah persimpangan, yg agak ke kiri jalur batu, yg agak ke kanan jalur rumput. “Luk, kynya yg jalur kanan lebih landai nih.., gw yakin tar ketemunya di puncak juga” kata mahe dgn sok yakin. “Terserah lo deh bro, coba aja” jwb gw dgn agak ragu.

Akhirnya gw dan mahe mengikuti jalur rumput itu, agak tertutup memang tapi jalurnya masih cukup jelas.

Di jalur ini masih jelas sisa2 kebakaran (atw pembakaran) pohon di gn.sindoro ini. Jalur makin tertutup, dan makin ga jelas… rumput dan semak2 semakin tinggi sampai akhirnya gw bilang ke mahe

“Eh botak, kita nyasar neh..! Lo liat tuh, kita dah beda punggungan!”

“Wah, iya ya bro..” jwb mahe dgn muka culunnya itu.

“Ya udah, kita tembak langsung ke bukit paling tinggi aja, gw rasa bakal tembus ke puncak juga” kata gw sok yakin.

Jalur udah ga kliatan sama sekali, rumput dan semak sudah hampir sama tinggi dgn kami…kaki juga udah mulai baret2 terkena duri dari semak2 jahanam itu. Kami terus berjalan membuka jalur sampai hampir mencapai dataran tertinggi dari punggungan ini, dan akhirnya…”bro, kayanya itu jalur yg bener tuh” kata mahe

“iya bro, bener tuh…kita balik ke jalur itu aja dah”

Walaupun hrs melewati lembah yg cukup dalam krn perbedaan pungungan, kami akhirnya bisa kembali ke jalan yg benar…fuihh…

“hehehe…into the wild bro…into the wild…” kata mahe sambil terkekeh… *dezigghh!

Sekita jam 7.30 kami sampai di puncak gn.sindoro. Cuaca cerah pagi itu membuat pamandangan di sana benar2 menakjubkan…gunung sumbing terlihat cukup jelas. Kami sempatkan mengitari kawah gn.sindoro utk menikmati alun2 dan ladang edelweisnya…keren abisssss…)

Jam 9 kami meninggalkan puncak sindoro.., gw turun duluan dan krn kepikiran tenda yg gw tinggal, gw berlari secepat2nya, 30 mnt gw dah sampai di campsite dan dgn lega mendapati tenda gw dan semua isinya baik2 aja..fuihh…

Setelah makan siang seadanya, kami segera bersiap turun krn mendung semakin menggelayut di atas kami. Jam 11 kami turun dgn siraman hujan yg sangat lebat…sempat berhenti.., panas..kemudian hujan lagi…begitu seterusnya sampai kami tiba di ladang penduduk sekitar jam 4 sore. Kebetulan ada truk pengangkut sayuran yg terperosok, setelah kami bantu dorong, kami diperbolehkan menumpang sampai jalan utama di depan gapura desa kledung. Warung Lisa menjadi tmpat perhentian kami utk memuaskan nasfu cacing2 di perut kami yg sedari tadi udah mengganas…mmhhh…mak nyusss..! Then, kami balik lagi ke base camp gn.sumbing di desa garung yg memang kondisinya jauh berbeda dgn base camp gn.sindoro. Mas Yas, we are home..

::PENDAKIAN GN. SLAMET:: (Episode: jalan tengah malam)

Jam 5 pagi kami sudah terjaga dari mimpi2 kami malam itu, segera kami packing dan bersiap2 meninggalkan basecamp gn.sumbing yg sudah jadi tmpat kami beristirahat bbrp hari ini. Setelah berfoto sama Mas Yas, kami pamitan utk melanjutkan pendakian kami ke Gn.Slamet. Warung Lisa lagi2 menjadi tempat kami memuaskan lapar kami pagi itu… Tiba2 Eiger ngomong ma gw “Luk, gw kynya ga bs ikut ke Slamet deh, kaki gw pada lecet gan.. gw denger disana treknya nanjak dan licin, kynya gw ga bisa deh”

“Wah, yg bener lo gan? Udah tanggung nih satu gunung lagi..” kt gw

“Ngga deh gan, gw nyerah…gw balik aja ke Malang” kt eiger dgn raut penuh penyesalan

“Yawdah bro, lo yg bisa ngukur kemampuan lo. Kl emang mnrt lo ga bisa dilanjutin ya gpp, gw minta doanya aja smg gw ma mahe bs sampe puncak slamet” jwb gw mencoba realistis.

“Ok, bro gpp.. msh ada lain waktu”

Bbrp saat setelah itu, bis yg akan membawa eiger ke malang via jogja tiba di depan kami, setelah salaman persahabatan, eiger segera naik ke bis itu. Tengs bro, next time kita nanjak bareng lagi!

Sekarang tinggal gw dan mahe yg akan lanjut ke gn.slamet. Setelah foto bareng dan pamitan ama mas Ali sang pemilik warung lisa, kami naik bis jurusan purwokerto utk selanjutnya ke pos pendakian di desa bambangan.

Sekitar jam 2.30 kami tiba di desa bambangan, bbrp rombongan pendaki baru saja diantar ke desa bambangan shg kami hrs menunggu rombongan lain utk diantar ke desa bambangan. Jam 4 kami tiba di base camp desa bambangan, cuaca sore itu mendung dan mulai gerimis… dan tak lama kemudian hujan turun dgn sangat lebat.

“Bro, lo mo jalan kapan” tnya gw ma mahe

“Besok pagi aja bro, masih ujan gini”

“Mmmhh..kita tunggu bentaran ya, kl terang kita jalan. Kl jalan besok,

wktnya ga cukup bro”

“Ya udah deh, terserah lo aja”

Sampai jam 6 sore hujan ga juga berhenti. Berdasarkan pengalaman di sindoro-sumbing, cuaca tengah malam sampai pagi itu biasanya cerah, jam 12 siang sampai malam biasanya hujan.

“Bro, skrng kita tidur aja..tar kita jalan malem aja, jam 11..!” kata gw ma mahe

“O…jd skrg kita tdr nih? Jalan jam 11 ya?” kt mahe memperjelas pernyataan gw.

“Iya, kita skrg tdr aja dulu, tar kita jalan tengah malem…kaya babi gpp dah..”

Bbrp wkt kemudian gw ma mahe dah berada dalam sleeping bag masing2 ditemani anak kucing coklat penghuni basecamp itu. Jam 11 cuaca cerah, ketika yg lain terlelap tidur, gw ma mahe bersiap2 utk memulai pendakian ini “Kita tektok aja bro, tp ttp bawa keril utk jaga2” kata gw ke mahe. Setelah pemanasan sebentar, kami melangkah menuju ladang penduduk berupa tanah yg cukup licin krn sisa hujan semalam.

Sekitar jam 1 kami tiba di pos 1 (payung) dan sempat bbrp saat ngobrol dgn teman2 pendaki yg nge-camp disana. Singkat cerita (dah pegel nulisnya, dan gw yakin lo jg dah pegel mbacanya ), gw sampai di plawangan jam 6…sempat bertemu dgn bbrp teman baru dari trakindo dan istirahat sebentar. Setelah meninggalkan keril kami di sebuah shelter disana, melalui trek batuan dan kerikil yg melelahkan, puncak kami gapai sekitar jam 7:30…ffuuiiihhh…tengs God! Akhirnya rangkaian triple S ini tuntas juga.. ).

Kami sempatkan turun ke pinggiran kawah gn.slamet dan melihat sebuah prasasti peringatan meninggalnya teman2 bln februari 2001 .

Tak ada yg terlalu istimewa ketika kami turun dari puncak gn.slamet selain guyuran hujan menjelang ladang petani dan kejadian memalukan waktu gw nyebur ke parit dan ga bisa bangun…untung kaga difoto.. . wakakakak .

Jam 1 siang kami tiba di pos bambangan. Setelah repacking dan beres2, kami balik ke Jakarta.

foto2: widodotn.multiply.com

Thanks to:

  • My Almighty God, I’m nothing w/o You..
  • My Family… thanks for your support
  • My friends.. Ga bisa gw sebutin satu persatu neh, takut kelewatan malah kaga enak ntarnya. Utk semua teman2 #pendaki, juga di OANC..dimana aja deh!
  • Buat orang2 yg gw cintai dan mencintai gw, atw gw cintai tp kaga mencintai gw, atw kaga gw cintai dan kaga mencintai gw jg, dan org yg mencintai gw tp gw kaga cinta… Tengs for being part of my life…huehehehe…

Ditulis oleh BlueCloud, anggota forum Kaskus-OANC

Iklan
Explore posts in the same categories: Dan Lain - Lain, Hiking

%d blogger menyukai ini: